Label

Ancaman Perubahan Iklim di Kawasan Asia Pasifik


Dalam Bahasa Indonesia

Satu dekade setelah tsunami Samudera Hindia melanda, kawasan Asia-Pasifik tetap merupakan kawasan yang sangat rawan akan bencana dan kesenjangan kritis tetap ada dalam perihal peringatan dini, terutama dalam mencapai masyarakat yang paling rentan dan terpencil, Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) melaporkan pada hari Senin (15/12).

“Sepuluh tahun setelah tragedy tsunami Samudera Hindia, telah banyak yang dilakukan untuk mengisi kesenjangan dalam pengurangan risiko, kesiapsiagaan bencana dan sistem peringatan dini,” Shamika N. Sirimanne, Direktur ESCAP Divisi Pengurangan Risiko Bencana Teknologi Informasi dan Komunikasi mengatakan dalam sebuah rilis berita yang dikeluarkan pada hari Senin (15/12)

Sirimanne mengatakan bahwa pelajaran utama dari tragedu tsunami tanggal 26 Desember 2004 adalah betapa pentingnya sistem peringatan dini, dan menyoroti pembentukan Sistem Peringatan Tsunami Samudera Hindia pada tahun 2011 sebagai tonggak sejarah yang penting untuk membangun ketahanan yang lebih besar terhadap bencana di Asia-Pasifik.

Tapi Asia-Pasifik tetap sangat rawan bencana, meskipun kemajuan yang telah dicapai dalam membangun ketahanan, beliau mengatakan dalam sebuah diskusi panel di Foreign Correspondents Club of Thailand pekan lalu saat menandai peringatan 10 tahun dari salah satu bencana alam paling mematikan.

Kesenjangan kritis tetap ada pada sistem peringatan dini dan investasi tambahan yang diperlukan, khususnya di tingkat lokal, menurut ESCAP.

“Mencapai masyarakat yang paling rentan dan masyarakat terpencil pada ‘langkah-langkah terakhir’ dengan peringatan yang tepat waktu sangat penting,” Sirimanne menambahkan. “Sebuah sistem yang efisien belum direalisasikan.”

ESCAP mengatakan pula bahwa mereka memainkan peran penting dalam menggembleng berbagai upaya di regional, mempromosikan teknologi baru dan mendukung berbagai proyek peringatan dini melalui Dana Perwalian untuk Tsunami, Bencana dan Kesiapsiagaan Iklim.

Dana Perwalian telah memberikan kontribusi terhadap pembentukan mekanisme regional seperti Sistem Peringatan Tsunami Samudera Hindia dan Sistem Peringatan Regional Multi Bahaya yang Terintegrasi untuk Afrika dan Asia, serta penguatan sistem peringatan di tingkat nasional dan lokal , menurut ESCAP

In English

15 December 2014 – A decade after the Indian Ocean tsunami struck, the Asia-Pacific region remains highly disaster prone and critical gaps remain in early warning, especially in reaching the most vulnerable people and remote communities, the United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) said today.

“Ten years after the Indian Ocean tsunami, much has been done to fill gaps in risk reduction, disaster preparedness and early warning systems,” Shamika N. Sirimanne, ESCAP’s Director of Information and Communications Technology and Disaster Risk Reduction Division said in a press release issued today.

Ms. Sirimanne noted that a key lesson from the 26 December 2004 tsunami was the importance of early warning, and highlighted the establishment of the Indian Ocean Tsunami Warning System in 2011 as an important milestone towards building greater resilience to disasters in Asia-Pacific.

But Asia-Pacific remains highly disaster prone, despite progress being made in building resilience, she said at a panel discussion at the Foreign Correspondents Club of Thailand last week marking the 10th anniversary of one of the deadliest natural disasters on record.

Critical gaps remain in early warning and additional investments are required particularly at the local level, according to ESCAP.

“Reaching the most vulnerable people and remote communities at the ‘last mile’ with timely warnings is critical,” added Ms. Sirimanne. “An efficient end-to-end system is yet to be realized.”

ESCAP noted it plays a significant role in galvanizing regional efforts, promoting new technologies and supporting early warning projects through its Trust Fund for Tsunami, Disaster and Climate Preparedness.

The Trust Fund has made contributions to the establishment of regional mechanisms such as the Indian Ocean Tsunami Warning System and the Regional Integrated Multi-Hazard Early Warning System for Africa and Asia, as well as to the strengthening of warning systems at the national and local levels, according to ESCAP.

Ahshura di Afghanistan dan Pakistan

 Suasana Asyura di Kabul, Afghanistan.
 Suasana Asyura di Kabul, Afghanistan.
 Suasana Asyura di Kabul, Afghanistan.
Suasana Asyura di Karachi, Pakistan.
Suasana Asyura di Islamabad, Pakistan.
Suasana Asyura di Islamabad, Pakistan.
Suasana Asyura di Islamabad, Pakistan.

Iran Masih Jadi Target


PERSEKONGKOLAN Amerika-Saudi Arabia tampaknya SIA-SIA UNTUK MENGHANCURKAN IRAN. Sejumlah analis independen menyatakan anjloknya harga minyak dunia sebesar 35% merupakan konspirasi AS-Saudi untuk menghancurkan perekonomian Iran setelah secara bertubi-tubi selama lebih dari 30 tahun AS juga mensponsori penjatuhan sanksi-sanksi berat atas sektor-sektor penting Iran, dari larangan membeli minyak Iran sampai dengan transaksi perbankan dan bahkan di sektor yang menjadi hajat hidup rakyat Iran, yaitu kesehatan. Namun, mereka kecewa karena Iran tetap eksis dan bahkan mengalami kemajuan luar biasa dan diluar perkiraan mereka.

Kali ini pun mereka gigit jari, karena Iran malah menaikkan anggaran militernya lebih dari 15% dan ini yang sangat penting dan menjadi pukulan telak terhadap persekongkolan AS-Saudi....yaitu, Iran mengurangi ketergantungannya pada minyak dari 37% dalam anggaran tahun lalu menjadi 31,5% dalam anggaran tahun yang sedang berjalan ini. Rahasia kekuatan Iran seperti inilah yang Ayatullah Khomeini rahimahullah pernah nyatakan dengan sangat menarik: "Jika mereka menjatuhkan blokade ekonomi atas kami, ketahuilah bahwa kami adalah putera-putera Ramadan, dan jika mereka menjatuhkan blokade militer atas kami, ketahuilah bahwa kami adalah putera-putera Asyura"


Tradisi Berkuda di Iran dan Kazakhstan

Kristina Dmitriyeva. 
Iran Native Horse Rider. 
Iran Native Horse Rider. 
Iran Native Horse Rider. 
Kazakhstan Native Horse Rider. 
Kazakhstan Native Horse Rider. 
Kazakhstan Native Horse Rider.

Ketika Vladimir Putin Bertindak Tegas


Oleh Cahyono Adi

Mungkin saat ini Rusia telah menyadari kesalahannya dan mengikuti apa yang disarankan Paul Craig Roberts, mantan pejabat tinggi kabinet Presiden AS Ronald Reagan dan editor koran terkemuka Wall Street Journal. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya di situs Counterpunch bulan Maret lalu menyusul merebaknya konflik di Krimea, Ukraina, Roberts menyarankan Rusia untuk melakukan langkah tegas dengan menduduki Krimea dan wilayah-wilayah Ukraina Timur yang mayoritas penduduknya adalah etnis Rusia.

Alasan Roberts adalah karena pada dasarnya Rusia tengah berperang melawan Amerika dan sekutu-sekutunya, meski Rusia menginginkan hidup damai. Amerika, kata Roberts akan tetap memerangi Rusia dengan berbagai cara dan bentuk, meski secara formal mereka tidak berperang. Amerika akan terus memerangi Rusia, kata Roberts, selama Rusia masih tetap berdiri sebagai negara berdaulat yang menghalangi ambisi Amerika menguasai dunia sepenuhnya.

Menurut Robert, dengan menduduki Krimea dan Ukraina timur dan menempatkan pasukannya di kedua wilayah itu, maka Rusia memberi Amerika ruang yang lebih sempit untuk meneruskan provokasinya terhadap Rusia. Pada akhirnya Amerika hanya bisa mengajukan usul perundingan damai yang diakhiri dengan perjanjian damai secara permanen antara Rusia dan negara-negara barat.  Sebaliknya, jika Rusia tidak melakukan langkah itu, maka Rusia akan terus diprovokasi dan dipojokkan hingga akhirnya menyerahkan tidak saja harga dirinya sebagai bangsa besar dan kuat, juga kedaulatan wilayahnya.


Kita bisa menyaksikan dengan jelas pernyataan Roberts tersebut pada 2 wilayah konflik antara Rusia dengan barat, yaitu Krimea dan Ukraina Timur.

Dalam kasus Krimea, Rusia dengan tegas menduduki wilayah itu dengan dalih memenuhi aspirasi warga Krimea melalui referendum yang meminta bergabung dengan Rusia. Namun untuk wilayah Ukraina timur, Rusia tidak melakukan langkah yang sama, meski warga 2 provinsi Ukraina timur, Donetsk dan Luhansk telah menggelar referendum dan meminta bergabung dengan Rusia.

Rusia terlihat sangat menghindari konflik yang terus berlanjut dengan barat dengan tidak mengakui referendum warga Ukraina timur. Namun di sinilah masalahnya bermula. Setiap niat baik Rusia untuk menghindari konflik akan dianggap sebagai kelemahan Rusia, dan karenanya barat justru akan semakin intensif melakukan provokasi dan tekanan-tekanan politik terhadap Rusia.

Berbeda dengan Krimea dimana Rusia menempatkan pasukannya secara permanen, dan Ukraina dan negara-negara barat tidak lagi menyinggung-nyinggung statusnya sebagai wilayah Ukraina, di Ukraina timur Rusia benar-benar dilecehkan. Tanpa menghargai sedikitpun aspirasi warga Ukraina timur, Ukraina langsung menggelar operasi militer dan menyebut warga yang menginginkan pemisahan diri dari Ukraina sebagai para teroris.

Pada sisi lain Rusia dipaksa menyaksikan warga Rusia yang berada di Ukraina timur itu dibantai oleh pasukan Ukraina.  Dan itu  masih belum cukup, negara-negara barat justru bertubi-tubi menjatuhi Rusia sanksi yang sangat tidak pantas dilakukan terhadap sebuah negara berdaulat sebesar Rusia. Pada saat yang bersamaan Amerika dan NATO meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Ukraina.

Pendek kata, Rusia dilecehkan seleceh-lecehnya. Persis seperti pendapat Paul Craig Roberts, semakin “baik” Rusia, semakin lemah ia dipandang oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, dan semakin kurang ajarlah Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap Rusia.

Bayangkan saja, negara sekecil Ukraina saja (di hadapan Rusia) berani membantai warga keturunan Rusia di depan mata Rusia — saat ini lebih dari 1.000 warga keturunan Rusia di Ukraina timur yang tewas oleh operasi militer Ukraina, kemudian melakukan serangan mortir ke wilayah Rusia hingga menewaskan warga Rusia di wilayahnya sendiri.

Kini Rusia telah mulai unjuk kekuatan. Pada saat mereka menempatkan puluhan ribu pasukannya di perbatasan Ukraina dan mengirimkan unit-unit militernya ke wilayah Ukraina serta pesawat-pesawat pembom strategisnya yang menebos wilayah pertahanan udara Amerika, Rusia mengumumkan langkah tegas dengan mengembargo barang-barang makanan impor dari negara-negara barat

Tentu saja AS dan sekutu-sekutunya bereaksi keras atas langkah-langkah Rusia tersebut. Para pejabat AS dan Inggris misalnya, mengingatkan Rusia untuk tidak mengirimkan pasukannya ke Ukraina dengan menggunakan bendera “bantuan kemanusiaan”.

“Setiap intervensi akan dianggap sebagai tindakan yang tidak bisa diterima dan dianggap sebagai invasi terhadap Ukraina,” kata Dubes AS di PBB Samantha Power, Jumat (8/8), menanggapi kabar tentang masuknya unit-unit militer Rusia ke Ukraina untuk membantu para separatis Ukraina timur.

Sementara Menlu Inggris Philip Hammond menanggapi hal yang sama, mengatakan: “Saya mendesak Rusia untuk menghindarkan diri dari tindakan provokatif.”

“Saya sangat khawatir dengan adanya laporan-laporan meningkatnya aliran senjata berat ke wilayah Ukraina dari Rusia dan dengan adanya laporan-laporan tentang pasukan Rusia yang menggelar latihan “intervensi kemanusiaan” di negara ketiga,” tambah Hammond.

Namun tentu saja pernyataan itu tidak ada artinya saat Rusia mengerahkan pasukannya ke wilayah Ukraina. Kecaman-kecaman keras itu akan berubah menjadi “bujuk rayu” dan “iming-iming” kepada Rusia untuk mengembalikan Ukraina timur kepada negara induknya.

Mungkin selanjutnya Robert akan mengusulkan agar Rusia menuntut pemilu ulang di Ukriana dengan mengajukan Victor Yanukovich sebagai kandidat jagoannya, atau bahkan invasi total Rusia atas seluruh wilayah Ukraina untuk mengembalikan wilayah Rusia seperti sebelum tumbangnya Uni Sovyet.

Indonesian Army 2014

5 Desember 2014. Peringatan Hari Armada di Markas Armada Timur TNI AL. 
Flashiron 2012 Kopaska navy Seal in Goam. 
Komando Strategi Angkatan Darat (KOSTRAD) 
Indonesian Airforce. 
Indonesian Warship. 
Indonesian Warship Yakhont. 
Indonesian Special Force. 
Pasukan Lintas Udara Kostrad. 

Pidato Mahmoud Ahmadinejad di PBB September Tahun 2010


Bismillahirrahmanirrahim

Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Wassalamu ‘ala Sayyidina wa Nabiyyina Muhammad, wa Alihi at-Thahirina wa Shahbihi al-Muntajabina wa ‘ala Jami’i al-Anbiya wa al-Mursalin…

Salam dan shalawat kepada para Nabi Ilahi, khususnya Nabi Muhammad Saw, Ahlul Bayt yang suci, para sahabat terpilihnya dan kepada seluruh para Nabi Ilahi…

Allahumma ‘Ajjil li Waliyyika al-Faraj, wal’afiata wa an-Nashr. Waj’alna min Khairi Ansharihi wa A’awanihi, wal Mustasyhadina baina Yadaih…

Wahai Allah Yang Maha Besar! Percepat kemunculan Wali-Mu disertai dengan keselamatan dan kemenangan. Jadikan kami sebagai penolong dan pendukung terbaiknya dan senantiasa berkorban di jalannya…

Bapak Ketua dan rekan-rekan yang mulia…

Saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Besar yang masih memberikan kesempatan untuk hadir lagi di sidang Majelis Umum PBB ini. Di awal pidato, saya ingin mengingatkan semua yang hadir untuk memberikan penghormatan kepada para korban bencana banjir bandang yang melanda Pakistan. Saya mengucapkan belasungkawa kepada mereka yang ditinggal, pemerintah dan bangsa Pakistan. Pada kesempatan ini juga saya mengajak semua untuk segera menolong sesama manusia sebagai kewajiban kemanusiaannya.

Di sini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada manajemen Majelis Umum PBB.

Di tahun-tahun lalu, saya telah berbicara di depan kalian tentang sebagian harapan, kecemasan, krisis keluarga, keamanan, kemuliaan manusia, ekonomi, iklim, harapan akan keadilan dan perdamaian yang berkelanjutan.

Kini, kekuasaan sistem Kapitalisme dan manajemen yang ada di dunia pasca satu abad telah sampai pada titik akhirnya. Sistem Kapitalisme tidak mampu memberikan jawaban yang tepat terhadap tuntutan masyarakat. Untuk itu saya akan berusaha menggambarkan sebagian parameter sistem yang tepat bagi masa depan dengan mencermati dua faktor utama kegagalan yang ada.

Pertama, Cara Pandang dan Keyakinan

Kalian semua tahu tentang misi yang diemban oleh para Nabi Ilahi. Mereka diutus untuk menyeru seluruh manusia kepada monoteisme, cinta dan keadilan. Mereka diutus untuk menghamparkan jalan bagi manusia mencapai kebahagiaan. Para Nabi Ilahi mengajak manusia kepada pemikiran dan keilmuan agar lebih baik dalam mengenal hakikat. Mereka juga diutus untuk memperingatkan manusia akan kesyirikan dan egoisme.

Hakikat seruan para Nabi adalah satu. Setiap Nabi membenarkan Nabi sebelumnya dan memberikan kabar gembira akan kedatangan Nabi yang baru. Para Nabi Ilahi memperkenalkan agama yang sesuai dengan kapasitas manusia dan lebih sempurna dari yang terdahulu. Semua ini berjalan hingga sampai kepada Nabi Muhammad Saw, Nabi pamungkas yang mengetengahkan agama secara sempurna.

Sesuai dengan perjalanan ini ada saja para arogan dan penyembah dunia yang berusaha menghadang seruan yang jelas ini dan bangkit menghadapi pesan-pesan para Nabi.

Para pengikut Namrud bangkit menghadapi Nabi Ibrahim as, para pengikut Firaun di hadapan Nabi Musa as dan para penyembah dunia melawan Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw. Di abad-abad terakhir, dengan alasan kezaliman yang dilakukan mereka yang mengklaim orang-orang beragama di Barat di Masa Pertengahan, segala nilai, moral ditafsirkan sebagai faktor keterbelakangan dan meletakkannya berhadap-hadapan dengan sains dan rasionalitas.

Pemutusan hubungan manusia dengan Langit sejatinya manusia telah memutuskan hubungannya dengan hakikat dirinya sendiri.

Manusia yang memiliki potensi mengenal hakikat alam dan pencari kebenaran, cenderung akan keadilan dan kesempurnaan, kesucian dan keindahaan dan menjadi wakil Allah di bumi telah berubah menjadi keberadaan yang terbatas pada materi. Kewajiban manusia didefinisikan tidak lebih dari upaya untuk sampai pada kelezatan individu. Naluri manusia telah menggantikan esensi hakikat manusia.

Seluruh manusia dan bangsa-bangsa dianggap sebagai rival masing-masing. Kebahagiaan seorang individu atau sebuah bangsa didefinisikan dengan mengganggu, menghabisi dan menumpas lainnya. Pertikaian merusak untuk tetap eksis dijadikan dasar dalam mengatur hubungan sesama manusia menggantikan Interaksi konstruktif dan saling menyempurnakan.

Penyembahan modal dan hegemoni telah menggantikan monoteisme yang menjadi rahasia persatuan dan cinta.

Semua aksi luas penentangan terhadap nilai-nilai ilahi telah membuka jalan bagi perbudakan dan penjajahan.

Bagian luas dari dunia berada di bawah kekuasaan beberapa negara Barat. Puluhan juta manusia telah dijadikan budak dan puluhan juta keluarga telah tercerai-berai. Seluruh sumber-sumber kekayaan, hak dan budaya bangsa-bangsa jajahan telah dijarah. Tanah air yang diduduki dan masyarakat asli telah dibantai dan dihinakan.

Namun dengan bangkit bangsa-bangsa, para imperialis semakin terisolasi dan kemerdekaan bangsa-bangsa kemudian diakui. Harapan akan penghormatan, kesejahteraan dan keamanan telah hidup di tengah bangsa-bangsa. Di awal-awal abad lalu, slogan-slogan indah kebebasan, hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi telah menciptakan banyak harapan yang menjadi obat penawar bagi luka-luka dalam yang masih menganga. Namun kini bukanhanya harapan-harapan itu tidak terealisasikan, justru kenangan yang lebih pahit dari masa lalu dalam sejarah yang terekam dalam ingatan.

Dalam dua Perang Dunia, penjajah Palestina, dalam perang Korea dan Vietnam, dalam perang Irak-Iran, dalam penjajahan Afghanistan dan Irak dan dalam perang-perang di Irak, ratusan juta manusia tewas, terluka dan menjadi pengungsi.

Terorisme, produksi narkotika, kemiskinan dan kesenjangan sosial telah semakin meluas. Pelbagai pemerintahan kudeta dan diktator yang didukung Barat di Amerika Selatan telah melakukan kejahatan yang luar biasa.

Bukannya melucuti senjata, produksi dan simpanan senjata-senjata nuklir, biologi dan kimia justru semakin meluas. Dunia kini berada dalam ancaman yang lebih besar.

Dengan demikian, tampaknya apa yang terjadi adalah penerapan dari tujuan-tujuan para imperialis dan pemilik budak, tapi kali ini dengan slogan-slogan baru.

Kedua, Faktor Manajemen Global dan Sistem Berkuasa

Masyarakat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dibentuk dengan slogan menegakkan perdamaian dan keamanan, serta menjaga HAM.

Mekanisme manajemen yang berlaku di dunia dapat diteliti dengan membedah tiga peristiwa.

Pertama: 11 September yang telah mempengaruhi kondisi dunia sekitar 10 tahun.

-Secara tiba-tiba ditayangkan ke seluruh penjuru dunia berbagai rekaman serangan terhadap menara kembar.

-Kira-kira semua pemerintah dan politisi terkemuka mengecam serangan tersebut.

-Motor propaganda pun bergerak dan dunia diambang ancaman besar dengan nama terorisme dan diumumkan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah invasi militer ke Afghanistan.

-Pada akhirnya, Afghanistan dan tidak lama kemudian Irak diduduki.

Mohon diperhatikan;

Diklaim bahwa serangan 11 September telah menewaskan sekitar 3.000 orang dan kami sangat menyayangkan hal tersebut. Namun di Afghanistan dan Irak hingga kini ratusan ribu orang tewas dan jutaan lainnya cedera serta bentrokan terus meningkat setiap harinya.

Terkait pelaku serangan 11 September, ada tiga pendapat:

1-Kelompok teroris yang sangat kuat dan pelik yang berhasil menembus seluruh lapisan keamanan dan intelejensi Amerika. Pendapat ini yang disebar luaskan oleh pemerintah Amerika.

2-Sebagian pihak di dalam pemerintah Amerika Serikat untuk menciptakan perubahan dalam proses kelesuan ekonomi Amerika dan penguasaan Washington terhadap Timur Tengah dan juga upaya penyelamatan rezim Zionis. Mayoritas warga Amerika, bangsa-bangsa, dan juga para politisi dunia yang meyakini pendapat ini.

3-Sebuah kelompok teroris yang didukung dan dimanfaatkan oleh pemerintah Amerika Serikat kala itu. Tampaknya pendapat ini yang mendapat dukungan paling sedikit.

Dokumen terpenting dari tuduhan tersebut adalah beberapa paspor yang diangkat dari puing-puing dahsyat itu dan sebuah rekaman video dari seorang yang tidak jelas tempat tinggalnya. Namun disebutkan bahwa sebelumnya ia pernah terlibat dalam kontrak dagang minyak dengan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat. Ingin dikesankan bahwa karena kebakaran hebat dan ledakan, tidak ada sisa dari para pelakunya serangan itu.

Ada beberapa pertanyaan pokok yang belum terjawab

1-Apakah logika tidak membenarkan bahwa pertama harus dilakukan penelitian serius oleh kelompok-kelompok independen dan kemudian identifikasi seluruh pelaku dan menentukan program untuk menindak mereka.

2-Bila pendapat pemerintah Amerika diterima, apakah tindakan terhadap kelompok teroris, adalah invasi meluas, perang teratur, dan pembantaian ratusan ribu orang?

3-Apakah tidak mungkin dilakukan seperti cara Iran dalam menyikapi kelompok teroris Rigi yang telah membuat 400 warga Iran gugur dan cedera? Dalam operasi yang dilancarkan Iran tak satupun nyawa orang yang tidak berdosa yang melayang.

Diusulkan bahwa PBB harus membentuk tim pencari fakta terkait Serangan 11/9 sehingga sejumlah pihak tidak melarang penyampaian pendapat terkait masalah ini.

Di sini, Saya ingin mengumumkan bahwa Republik Islam Iran, tahun depan, akan menjadi tuan rumah sebuah konferensi yang bertujuan mengidentifikasi terorisme dan mencari mekanisme menghadapinya. Untuk itu, Saya mengundang para pejabat dunia, pemikir, intelektual dan peneliti untuk menghandiri konferensi ini.

Kedua: Pendudukan Palestina

Bangsa tertindas Palestina selama 60 tahun berada di bawah pendudukan Rezim Zionis Israel, dan mereka tidak mendapat kebebasan, keamanan dan hak kedaulatan. Akan tetapi keberadaan para penjajah malah diakui.

Hingga kini, Zionis Israel melakukan perang sebanyak 5 kali. Rezim ini melakukan perang terburuk terhadap Lebanon dan Gaza karena membantai warga-warga tak berdosa. Zionis Israel juga melanggar semua ketentuan internasional bahkan menyerang konvoi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan dan membantai warga tak berdosa.

Rezim Zionis Israel mendapat dukungan dari sejumlah negara Barat. Rezim ini juga selalu mengintimidasi kawasan dan meneror tokoh-tokoh Palestina dan negara lainnya. Bahkan para pendukung Palestina dan penentang Zionis Israel menyandang status sepeti teroris dan anti-Yahudi, serta terus mendapat tekanan. Semua nilai bahkan kebebasan berpendapat di Eropa dan AS diberangus Rezim Zionis.

Semua solusi gagal diselesaikan karena tidak memperhatikan hak-hak bangsa Palestina.

-Jika semenjak awal, hak kedaulatan bangsa Palestina diakui sebagai ganti dari mengakui rezim penjajah Zionis Israel, apakah kita akan menyaksikan semua kejahatan yang terjadi?!!

-Usulan kami adalah pemulangan pengungsi Palestina ke tanah air mereka dan merujuk pada referendum semua warga Palestina untuk menentukan kedaulatan dan bentuk pemerintahan.

Ketiga: Energi Nuklir

Energi nuklir, bersih, murah, dan merupakan kenikmatan ilahi yang juga salah satu alternatif terbaik untuk mengurangi polusi bahan bakar fosil.

Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) mengizinkan semua anggotanya untuk memanfaatkan nuklir sipil tanpa batas, dan bahkan Badan Tenaga Nuklir Internasional (IAEA) berkewajiban mendukung dan melindungi dari sisi teknis dan hukum.

Bom nuklir adalah senjata anti-kemanusiaan yang harus dimusnahkan total. NPT juga melarang produksi bom nuklir dan penyimpanannya, bahkan menilai pelucutan senjata nuklir sebagai keharusan.

Akan tetapi perhatikanlah apa yang dilakukan sejumlah pemilik senjata nuklir yang juga anggota Dewan Keamanan (DK) PBB.

-Mereka malah menilai tenaga nuklir sebagai bom, dan berupaya memonopolinya dan menekan IAEA agar membatasi kepemilikan tenaga nuklir ini hanya untuk segelintir negara.

-Pada saat yang sama, negara-negara itu menimbun bom nuklir dan memproduksinya. Tentu Anda mendengar bahwa pemerintah Amerika tahun ini mengalokasikan 80 milyar dolar untuk bom nuklir.

Kebijakan seperti ini bukan hanya membuat perlucutan senjata tidak terealisasi, tapi malah terjadi perluasan senjata nuklir di sejumlah wilayah termasuk Rezim Zionis Israel yang penjajah dan pengancam.

Di sini diusulkan sebagai agar tahun 2011 dinamakan sebagai tahun pelucutan senjata nuklir, energi nuklir untuk semua, senjata nuklir tidak untuk siapa pun.

Dalam semua masalah ini, PBB tidak dapat melakukan langkah penting. Sangat disayangkan bahwa dalam dekade yang diberi nama Dekade Perdamaian, justru terjadi peperangan, agresi dan pendudukan. Bahkan ratusan ribu orang tewas dan terluka, yang terus bertambah karena permusuhan dan kedengkian.