Label

Sejarah Linguistik



Apa yang pada akhirnya ditangkap oleh naskah kuno adalah sebagian atau seluruh bahasa yang digunakan di zaman purbakala. Namun, sebagaimana Anda mungkin perhatikan, semua bahasa manusia berkembang sepanjang waktu. Contohnya, syair Inggris yang ditulis di masa Shakespeare tidak lagi berima dengan benar, tapi jika menengok ejaan lamanya, ia pasti berima. Seiring bertambahnya perubahan sepanjang waktu, teks-teks kuno menjadi tak dapat dipahami bila pengetahuan tentang bahasanya lenyap. Dalam beberapa kasus, teks tersebut bisa dibaca, tapi tak bisa dipahami.

Contoh terbaik adalah Etruscan (bahasa Etruria kuno di Italia), yang ditulis dalam naskah yang hampir identik dengan abjad Romawi, sehingga masing-masing bunyi dan kata bisa dipisahkan. Namun, karena tidak ada seorangpun yang tahu pengertian kata dan aturan gramatikal Etruscan, teks-teksnya tetap relatif samar. Untung, tidak semua lenyap. Jika bahasa kuno bertahan dan berkembang menjadi “anak” bahasa berikutnya yang bisa dipahami, maka kita dapat mengetahui sesuatu yang dilibatkan oleh bahasa “induk” dan prosesnya dalam evolusi tersebut. Studi perubahan bahasa sepanjang waktu ini disebut historical linguistics.

Mengapa Bahasa Berubah?

Mengapa bahasa berubah? Ada banyak teori mengenai sebab perubahan bahasa. Ini telah membangkitkan rasa ingin tahu orang-orang sejak zaman dahulu sekali dan sepertinya hampir setiap orang mempunyai pemikiran tersendiri. Satu contoh awal dapat dijumpai dalam Bibel dalam bentuk Menara Babel, di mana Tuhan memutuskan bahwa manusia terlalu sombong dan membuat hidup mereka menyedihkan dengan memberikan bahasa yang berlainan kepada setiap orang. Seiring sains menjadi kekuatan yang semakin dominan di masyarakat, penjelasan ilmiah tentang perubahan bahasa diajukan. Berikut adalah segelintir [penjelasan ilmiah] yang dikemukakan bertahun-tahun:

[1] Teori Pembusukan Bahasa 

Pandangan abad 18 mengenai bahasa salah satunya adalah pembusukan dan kemerosotan. Pertimbangannya adalah bahwa bahasa-bahasa Indo-Eropa kuno seperti Sanskerta, Yunani, dan Latin semuanya mempunyai skema deklensi/pentasrifan (perubahan bentuk kata) dan konjugasi yang rumit, sedangkan bahasa Indo-Eropa modern mempunyai bentuk pentasrifan dan konjugasi yang jauh lebih sedikit. “Kehilangan” bentuk pentasrifan dan konjugasi ini merupakan akibat dari penutur bahasa yang semakin tak peduli dengan cara berbicara mereka (baca: “malas”), jadi penutur modern “merosot” karena memperbolehkan bahasa yang dulunya rumit membusuk menjadi bahasa demikian “sederhana”.

Tak pelak lagi, argumen “kemerosotan” ini mempunyai satu cacat utama. Meskipun jumlah pentasrifan dan konjugasi telah berkurang, bagian lainnya seperti partikel dan kata kerja bantu telah berkembang mengisi tempat mereka. Segala sesuatu yang dapat diekspressikan dalam bahasa kuno masih dapat diekspressikan hari ini. Pada akhirnya, teori ini sangat subjektif, sebab bersandar pada pendapat pribadi, bukan fakta ilmiah, atas apa yang “amat berkembang” dan apa yang “merosot”. Oleh karena itu ini bukan sains.

Catatan Tambahan: Meskipun linguistik menggeser teori pembusukan bahasa sehabis abad 18 ini, banyak ahli masih memakai dalih ini untuk memadamkan variasi dialek di seluruh dunia dengan menjustifikasi dialek-dialek itu sebagai sesuatu yang “merosot”. Ini tentu saja sama sekali tak masuk akal, sebab dialek yang paling terdengar aneh sekalipun memiliki struktur gramatikal tetap dan bekerja sempurna untuk mengekspresikan ide dan juga bahasa standard.

[2] Teori Hukum Alam 

Teori berikutnya, diajukan oleh para Neogrammarian (Junggrammatiker) di akhir abad 19, adalah proses alam. Neogrammarian menyatakan bahwa perubahan [bahasa] bersifat otomatis dan mekanis, dan karenanya tidak bisa diamati atau dikendalikan oleh penutur bahasa. Mereka menemukan bahwa apa yang terdengar seperti “bunyi” tunggal bagi telinga manusia sebetulnya merupakan kumpulan bunyi-bunyi yang sangat serupa. Mereka menyebut bunyi-bunyi serupa ini sebagai “penyimpangan tingkat rendah” dari “bentuk ideal”. Mereka berargumen bahwa perubahan bahasa adalah semata pergeseran lambat “bentuk ideal” dengan yang penyimpangan kecil.

Persoalan kentara di sini adalah bahwa tanpa suatu jenis penguatan, penyimpangan tersebut bisa maju mundur dan membatalkan perubahan. Lantas Neogrammarian menambal teori ini dengan menambahkan sebab untuk penguatan penyimpangan seperti penyederhanaan bunyi, atau anak-anak yang mempelajari cara berbicara orangtua mereka secara tak sempurna.

[Argumen] penyederhanaan bunyi pada dasarnya menyatakan bahwa bunyi tertentu lebih mudah untuk dilafalkan daripada yang lain, sehingga kecenderungan alami penutur adalah memodifikasi bunyi yang sulit diucapkan menjadi bunyi yang lebih mudah. Contohnya adalah kata /camera/ proto-Romance (bahasa turunan Latin pertama); /camera/ artinya “room”, ruang/kamar) yang berubah menjadi /camra/ Prancis awal. Sulit untuk mengucapkan /m/ dan /r/ secara berturut-turut, sehingga “disederhanakan” dengan menambahkan /b/ di antara keduanya, menjadi /cambra/ (karenanya membawa pada “chambre” Prancis modern). Contoh yang lebih baru adalah kata “nuclear” Inggris, yang dilafalkan oleh banyak orang sebagai “nucular”.

Persoalan pada penambalan ini adalah bahwa karena tidak semuanya dalam sebuah bahasa sulit untuk dilafalkan (kecuali jika Anda berbahasa Klingon), proses tersebut hanya akan bekerja pada sebagian kecil, dan tidak bisa bertanggung-jawab atas sebagian besar perubahan bunyi. Kedua, untuk menentukan apakah “nucular” atau “nuclear” lebih mudah dilafalkan adalah amat meragukan. Anda akan mendapat jawaban berlainan dari orang-orang berbeda. Penyederhanaan memang ada, tapi mempergunakannya sebagai sebab (bukan gejala) perubahan bahasa adalah terlalu subjektif untuk dianggap ilmiah.

Tambalan berikutnya, yakni anak-anak yang mempelajari bahasa orangtua mereka secara tidak benar, juga tidak bekerja. Mari kita ambil kasus ekstrim dalam bentuk imigran. Yang teramati adalah bahwa anak-anak para imigran hampir selalu mempelajari bahasa teman-teman mereka di sekolah tanpa menghiraukan dialek atau bahasa asli orang tua mereka. (Dan benar, anak-anak tersebut menjadi multibahasa, tapi itu cerita lain). Kenyataannya, anak-anak imigran Inggris di AS hampir selalu berbicara dengan salah satu dari sekian banyak aksen regional Amerika. Jadi dalam kasus ini, kontribusi bahasa orang tua menjadi kurang penting dibanding kelompok sosial di mana anak berada.

[3] Teori Ikatan Sosial 

Teori terakhir yang maju selama abad ini adalah teori sosial, dianjurkan oleh pakar bahasa asal Amerika, William Labov. Apa yang dia temukan adalah bahwa pada awalnya sebagian kecil masyarakat melafalkan kata tertentu yang mempunyai, misalnya, vokal sama secara berbeda dari mayoritas masyarakat. Ini terjadi secara alami karena manusia tidak mereproduksi bunyi yang persis sama. Namun, pada suatu waktu kemudian, untuk alasan tertentu, perbedaan pelafalan ini mulai menjadi sinyal identitas sosial dan budaya. Orang lain dalam masyarakat tersebut yang ingin diidentifikasi dengan kelompok itu secara sadar atau (yang lebih mungkin) tak sadar mengadopsi perbedaan ini, melebih-lebihkannya, dan menerapkannya untuk mengubah pelafalan kata lain. Jika diberi cukup waktu, perubahan tersebut akhirnya mempengaruhi semua kata yang mempunyai vokal sama, sehingga ini menjadi perubahan bunyi bahasa yang tetap.

Kita dapat berargumen bahwa fenomena serupa berlaku pada grammar dan pada kosakata bahasa. Contoh yang menarik adalah kata-kata yang berkaitan dengan komputer yang merayap ke dalam bahasa Amerika standard, seperti “bug”, “crash”, ”net”, “email”, dan lain-lain. Ini akan sesuai dengan teori tersebut dalam hal bahwa kata-kata ini mulanya dipakai oleh sekelompok kecil (yakni ilmuwan komputer), tapi dengan adanya boom Internet setiap orang ingin melek teknologi. Dan dengan demikian kata-kata ilmu komputer ini mulai merembes ke dalam bahasa mainstream.

Sekarang ini kita berada di fase pelebih-lebihan, di mana masyarakat menciptakan istilah-istilah aneh seperti “cyberpad” dan “dotcom” yang tak hanya membuat kita gila tapi juga tidak eksis sebelumnya dalam ilmu komputer. Teori sosial perubahan bahasa terdengar jauh lebih masuk akal daripada teori-teori sebelumnya. Manusia, bagaimanapun, adalah makhluk sosial, dan jarang kita melakukan sesuatu tanpa faktor sosial.

Cuplikan Teks Pidato Indonesia Menggugat


Tuan-tuan Hakim yang terhormat!

Di dalam aksi kami sering-sering kedengaran kata-kata “kapitalisme” dan “imperialisme”. Di dalam proses ini, dua perkataan ini pun menjadi penyelidikan. Kami antara lain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya kami berkata “kapitaisme harus dilenyapkan”. Kami dituduh membahayakan pemerintah kalau kami berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya, kami dituduh berkata bahwa kpitalisme = bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme = pemerintah yang sekarang!

Adakah bisa jadi benar tuduhan ini? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah mengatakan, bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah. Kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau berkata; kapitalisme, tidak pernah memaksudkan pemerintah atau ketertiban umum atau apa saja kalau kami berkata imperialisme. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata imperialisme!

Maka apakah artinya kapitalisme? Tuan-tuan Hakim, di dalam pemeriksaan sudah kami katakan, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme timbul dari cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya nilai-lebih[1] tidak jatuh di dalam tangan kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi kapital, dan industrielle reserve-armée[2]. Kapitalisme mempunyai arah kepada Verelendung[3] (baca: pemelaratan).

Haruskah kami di dalam pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa,–tetapi ialah suatu faham, suatu pengertian, suatu sistem? Haruskah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa kapitalisme itu ialah sistem cara produksi, sebagai yang kami telah terangkan dengan singkat itu? Ah, Tuan-tuan Hakim, kami rasa tidak. Sebab tidak ada satu intelektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang sudah begitu banyak diselidiki dari kanan-kiri, luar dalam, sebagai kapitalisme itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu luas perpustakaannya, sebagai kapitalisme itu, –hingga berpuluh-uluh jilid, berpuluh-puluh ribu studi dan buku-buku standar dan brosur-brosur tentang itu.

Tetapi apa arti perkataan imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu pengertian. Ia bukan sebagai yang dituduhkan kepada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnelandsch bestuur[4], bukan pemerintah, bukan gezag[5], bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri,–suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Ini adalah suatu “kejadian” di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan-keharusan di dalam ekonomi sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomi bangsa”, selama ada “ekonomi negeri”, selama itu dunia melihat imperialisme. Ia kita dapatkan dalam nafsu burung Garuda Rum terbang ke mana-mana, menaklukkan negeri-negeri sekeliling dan di luar Lautan Tengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsu bangsa Spanyol menuduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggris, ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan negeri semenanjung Malaka, menaklukkan kerajaan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa. Ia kita dapatkan di dalam nafsu negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku. Ia kita dapatkan di dalam nafsu kerajaan Jepang menduduki semenanjung Korea, mempengaruhi negeri Mancuria, menguasai pulau-pulau di Lautan Teduh.

Imperialisme terdapat di semua zaman “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya sudah butuh pada imperialisme itu. Bukan pada bangsa kulit putih saja ada imperialisme; tapi juga pada bangsa kulit kuning, juga pada bangsa kulit hitam, juga pada bangsa kulit merah sawo sebagai kami,–sebagai terbukti di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit; imperialisme adalah suatu “economische gedetermineerde noodwendigheid”, suatu keharusan yang ditentukan oleh rendah tingginya ekonomi sesuatu pergaulan hidup, yang tak memandang bulu.

Dan sebagai yang tadi kami katakan, –imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pengluasan negeri-daerah dengan kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol[6] (Seorang anggota parlemen Belanda) –tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “pénétration pacifique”.

Terutama dalam sifatnya mempengaruhi rumah tangga bangsa lain, imperialisme zaman sekarang sama berbuahkan “negeri-negeri mandat” alias “mandaatgebieden”, daerah-daerah pengaruh” alias “invloedssferen” dan lain-lain sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, imperialisme itu berbuah negeri jajahan, –koloniaal-bezit.

Catatan

[1]Nilai lebih (merrwarde): kelebihan hasil yang diterima majikan, dari produksi kaum buruh.
[2] industrielle reserve-armée: barisan penganggur
[3] Verelendung: Memelaratkan kaum buruh.
[4] ambtenaar BB (binnelandsch bestuur): pegawai pamong praja kolonial belanda
[5] Gezag: kekuasaan.
[6] Van Kol Henri Hubert (1852-1925) , seorang sosialis yang turut mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) dan pernah menjadi Menteri Jajahan. Kata-kata ini diucapkan Van Kol dalam sidang Tweede Kamer, 22 November 1901.

Sumber: Risalah “Indonesia Menggugat”, yaitu Pidato Pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial (landraad) di Bandung, 1930.

Peringatan Asyura di Istanbul, Turki


Ragam Aktivitas Muslim Syi'ah Dalam Fotografi

(Muslim Syi'ah Libanon Menyambut Mahmoud Ahmadinejad)
(Muslim Syi'ah Irak Sedang Memperingati Syahidnya Cucu Rasulullah, yaitu Imam Husain as, di Karbala)
(Muslim Syi'ah Bahrain Melakukan Demonstrasi) 
(Hizbullah) 
(Hizbullah) 
(Kegiatan Bulan Ramadan Muslim Syi'ah di Iran)  
(Muslim Syi'ah Menghadiri Pengajian) 
(Muslim Syi'ah Iran Sedang Memperingati Syahidnya Cucu Rasulullah, Imam Husain as) 
(Muslim Syi'ah Pakistan Sedang Memperingati Syahidnya Cucu Rasulullah, Imam Husain as) 
(Muslim Syi'ah Irak Sedang Berdoa) 
(Muslim Syi'ah Sedang Sholat)

Empat Tujuan Intrinsik Sains


Menurut Einstein, sains adalah usaha membuat keanekaragaman yang kacau dalam pengalaman inderawi kita menjadi sebuah sistem pemikiran yang seragam secara logis (Einstein, 1954). Definisi ini membatasi sains ke dalam dua batasan: Pertama, ia harus bersangkut paut dengan pengalaman inderawi. Kedua, ia harus membentuk sistem pemikiran yang konsisten. Batasan pertama sering disebut empiris dan batasan kedua disebut teoritis. Inilah dua pilar utama sains. Kedua pilar ini kemudian dibangun atas landasan yang tersirat dalam definisi Einstein di atas, yaitu logika.

Logika adalah asas kelurusan berpikir (Sudarminta, 2002: 40). Pengalaman inderawi dan sistem pemikiran yang menyusun sains berinteraksi dengan perangkat kelurusan berpikir ini. Ada tiga cara bagaimana dua unsur sains tersebut berinteraksi yaitu cara deduktif, induktif, dan abduktif. Bernalar deduktif menarik kesimpulan dari sebuah pernyataan atau hukum umum. Bernalar induktif adalah menarik kesimpulan dari beberapa pernyataan atau kejadian khusus yang mirip. Bernalar abduktif adalah menarik kesimpulan dari sebuah dugaan yang kebenarannya masih harus diuji coba. Dengan ketiga bentuk bernalar ini, beserta logika, maka sains pun berkembang.

Pada perkembangannya, sains memiliki tujuan ekstrinsik dan tujuan intrinsik (Nola dan Irzik, 2005:189). Tujuan ekstrinsik adalah tujuan demi kepentingan manusia itu sendiri entah untuk berperang atau menciptakan perdamaian. Tujuan ekstrinsik terikat pada siapa ilmuwan yang mengerjakan sains itu. Sama halnya dengan pisau, tujuan ekstrinsiknya adalah memotong sayur atau menikam manusia, tergantung siapa penggunanya. Tujuan intrinsik adalah tujuan sains untuk sains itu sendiri. Ini adalah sesuatu yang ideal dan dapat diringkas sebagai menjaga kehidupan sains itu sendiri. Tujuan ini antara lain: (1) keterujian, (2) Memperoleh kebenaran dan menghindari kesalahan, (3) Prediksi, dan (4) kemajuan.

Keterujian (testability) merujuk pada kemampuan sains untuk menguji pernyataan. Hal ini dapat ditarik dari pandangan falsifikasi yang diajukan oleh filsuf Karl Popper. Menurutnya, “karakteristik pembeda dari pernyataan empiris (adalah) kerentanannya pada revisi – faktanya ia dapat dikritik dan diganti oleh yang lebih baik” (Popper, 1959:49). Sains hanya berurusan dengan pernyataan empiris, yaitu pernyataan yang hanya dapat difalsifikasi. Sebuah pernyataan yang tidak dapat dikritik bukanlah pernyataan ilmiah dan bukan urusan dari sains. Dengan kata lain, sebuah teori yang tidak dapat diuji benar-salahnya bukanlah teori yang ilmiah.  Agar dapat diuji, sebuah teori harus berkaitan dengan dunia nyata dan harus bersifat objektif. Hal ini sejalan juga dengan pendapat filsuf Quine dan Ullian (1978:79) yang disebut ketertolakan. Ketertolakan berarti sebuah pernyataan harus dapat ditolak oleh suatu pernyataan jika pernyataan penolak tersebut benar.

Sifat keterujian ini menjadikan sebuah makalah penelitian sains berbeda dengan makalah bidang ilmu lainnya. Sebuah makalah penelitian sains mengandung bagian ‘metode’ (Gorsuch, 2002). Bagian metode ini merupakan bagian wajib dan menjadi inti dari sebuah karya ilmiah sains. Bagian metode memungkinkan orang lain meniru bagaimana penelitian dilakukan dan mengkonfirmasi kebenarannya. Ketika sebuah metode menemukan hasil dan para ilmuan lainnya, menggunakan metode yang sama, menemukan hasil yang sama, maka ia menjadi fakta.

Tujuan kedua, yaitu memperoleh kebenaran dan menghindari kesalahan adalah sebuah tujuan berpasangan. Memperoleh kebenaran dan menghindari kesalahan merupakan tujuan yang ideal. Pada prakteknya, tujuan sains adalah memaksimalkan jumlah kebenaran yang didapatkan dan meminimalkan jumlah kesalahan yang diperoleh. Hal ini berkaitan dengan teori sebagai senjata sains. Sebuah teori terdiri dari beberapa pernyataan, sebagian empiris dan sebagian tidak. Jika sebuah teori memiliki proposisi yang seluruhnya empiris dan benarpun, ia tidak dipandang sebagai benar mewakili realitas. Mungkin ada sebuah teori lain yang memiliki proposisi lebih banyak, semua empiris, dan semua terbukti benar. Hal ini telah terjadi pada kasus teori gerak Newton yang digantikan oleh teori relativitas Einstein.

Tujuan ketiga adalah prediksi. Prediksi merupakan tujuan tertua dari sains. Sebagai contoh, para astronom di masa Mesir Kuno tidak bicara tentang falsifikasi, tapi bicara apakah sebuah teori mampu memprediksi sesuatu. Di sisi lain, Marx dan Comte tampaknya memandang prediksi sebagai tahap final dimana ilmu melakukan prediksi dan memegang kedaulatan mutlak atas kepastian dan kebenaran (Watloly, 2001:82). Fakta yang diperoleh sebelumnya lewat metode, kemudian dimasukkan dalam teori dan teori yang telah dimasuki fakta tersebut kemudian dituntut menghasilkan prediksi. Jika teori tersebut mampu memprediksi sesuatu, katakanlah kapan terjadinya gerhana, teori tersebut dapat dipandang ilmiah. Lebih lanjut, jika prediksi teori ilmiah tersebut benar dan konsisten, maka ia dipandang sebagai teori yang benar. Beberapa teori tandingannya yang tidak mampu memprediksi hal tersebut akan diragukan. Pada gilirannya, hanya satu dua teori saja yang dipandang kokoh dan teori-teori lain yang tidak memiliki kekuatan penjelas atau terbukti salah akan dihapus. Hal ini telah ditunjukkan dalam kasus teori evolusi. Pada abad ke-19, ada tujuh versi teori evolusi (Mayr, 2001:117). Seiring waktu, hanya satu dari tujuh teori ini yang bertahan hingga sekarang yaitu teori evolusi dengan seleksi alam dari Darwin. Teori evolusi lain, seperti Lamarck, Haeckel, Neo-Lamarckian, Huxley, De Vries, dan Morgan, gugur dan tak lagi dipandang. Sains terlihat tidak menyukai pluralisme teori karena mengejar kebenaran ini. Penolakan atas pluralisme teori inipun membawa pada tujuan sains selanjutnya yaitu kemajuan.

Tujuan sains yang keempat adalah kemajuan. Sains berusaha mencapai keseluruhan. Teori-teori berkembang dari satu ranah menuju ke ranah yang lebih luas. Teori tentang bulan harus dapat diselaraskan dengan teori tentang matahari dan membentuk teori yang lebih luas tentang tata surya misalkan. Hal ini terus beranjak hingga teori mencapai puncaknya yaitu bicara tentang keseluruhan alam semesta. Dalam sains, hirarki teori dapat diperluas terus mencapai detail dan mencapai keluasan. Mulai dari ilmu sosial yang bicara tentang masyarakat manusia menuju ke psikologi yang bicara sifat manusia, terus menanjak ke biologi hingga mencakup seluruh kehidupan. Beberapa pakar mengharap suatu saat seluruh sains akan lengkap dan mencapai kemandekan dimana segalanya telah dipelajari dan diketahui (Horgan, 1997). Hal ini tergambar dengan baik dalam peta sains yang dibuat oleh Tegmark (2007) berikut: 


Dalam pijakan dasar di atas, sains hidup lewat metode ilmiah. Metode ilmiah yang digunakan di masa sekarang berangkat dari dua filsuf masa renaisans yaitu Bacon dengan bukunya Novum Organum dan Descartes dalam bukunya Discourse on the Method of Properly Conducting One’s Reason and of Seeking the Truth in the Sciences. Metode ilmiah yang dirintis oleh mereka berdua membagi proses sains ke dalam dua tahap: empiris dan statistik (Alper, 2008:15). Pada tahap empiris, manusia mengindera alam. Ia mencari pola-pola tertentu di alam seperti kesadaran kalau matahari selalu terbit dan tenggelam atau eksperimen atau pengamatan modern yang melibatkan alat bantu inderawi seperti teleskop, mikroskop, dan sebagainya. Ia mencoba membuat penjelasan atas peristiwa tersebut dan mengujinya dengan tahap kedua, yaitu tahap statistik. Tahap statistik bertujuan memeriksa apakah penjelasan yang dibuatnya itu benar atau salah dengan mengajukan sebuah prediksi yang akan diuji. Tahap statistik tidak harus diartikan sebuah uji statistik seperti yang dilakukan piranti komputasi seperti SPSS atau Excell. Sebuah pengamatan yang konsisten kalau matahari selalu terbit dan tenggelam sudah menjadi bentuk uji statistik dengan kepastian 100%. Tentu saja, sains sangat hati-hati memberikan nilai 100% ini. Dalam penelitian-penelitian modern, para ilmuan paling tinggi memberikan kepastian 99.9999….%. Sebuah prediksi dikatakan lemah jika ia hanya punya kepastian di bawah 95%.

Secara filsafat, sains bertolak belakang dengan humanisme. Sains memandang manusia hanya sebagai sebuah hal materiil (materialisme), jiwa dipandang hanya seperangkat jaringan input, indera, syaraf, dan otak. Manusia tidak dipandang superior dan terpisah dari alam, namun sebagai sesuatu komponen alam dan tidak memiliki kelebihan dari komponen alamiah lainnya. Humanisme sebaliknya, memuliakan manusia atas alam (antroposentrisme) yang pada bentuk ekstrimnya memunculkan eksistensialisme yang memuliakan individu manusia atas alam. Baik buruknya aliran filsafati ini kita serahkan pada filsafat moral.

Eratnya sains dengan materialism tak lain karena sains berusaha menjelaskan alam semesta dengan sebab-sebab natural. Sebab-sebab natural yang dimaksud disini adalah sesuatu yang dapat diperiksa kebenarannya lewat metode yang objektif dan memenuhi tujuan-tujuan internal sains yang telah disebutkan sebelumnya. Sesuatu dapat dipandang objektif jika ia dapat didefinisikan dengan baik. Pendefinisian pada dasarnya adalah pembatasan sifat suatu konsep sehingga ia dapat diperiksa oleh berbagai pihak secara konsisten (objektif). Tuhan tidak dapat didefinisikan karena mendefinisikan Tuhan berarti membatasinya dengan seperangkat sifat. Kalaupun didefinisikan, seperti sifat-sifat tertentu yang diberikan oleh agama-agama kepada Tuhannya, tidak ada cara yang objektif untuk memilih mana Tuhan dari agama mana yang dimaksud.

Pustaka

Alper, A. 2008. The God Part of the Brain: A Scientific Interpretation of Human Spirituality and God. Naperville: Sourcebooks, Inc.

Einstein, A. 1954. Ideas and Opinions. New York: Crown Publishers

Gorsuch, R. L. 2002. The Pyramids of Sciences and of Humanities, American Behavioral Scientist 45, 1822–38.

Horgan, J. 1997. The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of the Scientific Age. New York: Bantam Books.

Mayr, E. 2001. What Evolution Is? Orion Publishing Group.

Nola, R., Irzik, G. 2005. Philosophy, Science, Education, and Culture. Amsterdam: Springer.

Popper, K. 1959. The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge

Quine, W., Ullian, J. 1978. The Web of Belief. New York: Random House

Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar. Yogyakarta: Kanisius

Tegmark, M. 2007. The Multiverse Hierarchy. Dalam Universe or Multiverse? B. Carr (ed), Cambridge: Cambridge University Press

Watloly, A. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi Secara Kultural. Jakarta: Kanisius.

Sumber: Fakta Ilmiah (http://www.faktailmiah.com/2012/02/04/tuhan-dan-sains-modern-part-2-hakikat-sains.html)