Label

Balasan Bagi Musuh-musuh Imam Husain as

(Foto: Aktor Iran Amin Zendegani dalam film Kingdom of Solomon)

Salah seorang pemimpin pasukan musuh yang membantai Imam Husain dan para sahabatnya di Karbala, bernama Akhnas bin Zaid. Ia adalah orang yang kejam, buas, dan tak punya belas kasih. Di antara kekejamannya adalah memimpin sepuluh orang berkuda untuk menginjak-injak jasad suci Imam Husain, sampai tulang dada dan punggung beliau hancur. Orang biadab ini selamat dari pembalasan Mukhtar al-Tsaqafi yang bangkit mengadakan pembalasan terhadap mereka yang telah membantai Imam Husain berserta para sahabatnya. Ia tetap hidup hingga berusia 90 tahun. Dan di suatu malam, dengan berpura-pura menjadi orang asing bertamu ke rumah, seorang muslim pecinta Ahlul Bait bernama Suda’i. Sekarang marilah kita dengarkan kisahnya secara langsung dari lisan Suda’i:

“Pada suatu malam, seorang lelaki bertamu kerumahku dan aku menyambut kedatangannya dengan baik. Aku berharap malam itu aku dapat menjalin persahabatan dengannya. Ia adalah Akhnas bin Zaid. Sebelumnya, aku tidak mengenalnya. Aku mencurahkan isi hatiku, sampai akhirnya masuk ke pembahasan tragedi Karbala. Aku menarik nafas panjang. Ia bertanya: Ada apa denganmu, mengapa engkau tampak bersedih?

Aku teringat berbagai musibah, yang berbagai musibah apa pun (selain musibah itu –maksudnya Tragedi Imam Husain di Karbala) terasa amat ringan, jawabku. Apakah engkau hadir di Karbala? tanyanya. Aku bersyukur kepada Allah karena aku tidak hadir di sana, jawabku. Ungkapan syukurmu ini untuk apa? Tanyaku. Karena aku tidak ikut serta dalam (tertumpahnya) darah al-Husain. Tidakkah engkau mendengar bahwa Rasulullah saww bersabda: Barangsiapa ikut serta dalam (tertumpahnya) darah al-Husain, maka ia akan diperiksa sebagaimana orang yang menumpahkan darah al- Husain; pada hari kiamat timbangan amal (baik)nya akan menjadi ringan. Tidakkah engkau mendengar bahwasannya Rasulullah saww juga bersabda: Barangsiapa membunuh puteraku al-Husain, maka di Jahanam nanti ia akan dimasukkan ke dalam peti yang dipenuhi dengan api. Tidakkah engkau mendengar….Mendengar itu, Akhnas berkata: Engkau jangan percaya semua itu; bohong belaka. Bagaimana aku tidak mempercayainya sedangkan Rasulullah saww bersabda: Aku tidak berbohong dan tidak pula dibohongi, jawabku.

Akhnas menjawab, mereka mengatakan bahwa Rasul saww bersabda: Pembunuh al-Husain tidak akan berumur panjang. Tapi aku bersumpah demi nyawamu bahwa aku berumur lebih dari sembilan puluh tahun. Tidakkah engkau mengenalku? Tidak, tegasku. Aku adalah Akhnas bin Zaid, yang sesuai perintah Umar bir Sa’ad membawa kudaku ke jasad Husain dan menginjak-injaknya sampai tulang-tulangnya hancur.

Suda’i berkata: Saat itu aku amat bersedih dan hatiku terasa sakit dan terbakar. Lalu aku berkata pada diriku sendiri: Aku harus membinasakannya. Aku melihat nyala pelita di ruangan mulai meredup. Lalu aku bangkit untuk mengatur nyala apinya. Akhnas berkata: Duduklah, biarkan aku yang melakukannya. Ia tampak sombong dan takabbur atas panjangnya usia dan keselamatannya. Ia lalu bangkit untuk mengatur nyala pelita itu. Tiba-tiba pelita itu menyambar dan membakar telapak tangannya. Sekalipun ia menggosok-gosokkan tangannya ke tanah, nyala api itu tak kunjung padam. Perlahan-lahan api itu membakar lengannya.

Kemudian dengan memelas ia memohon kepadaku: Tolonglah aku! Aku terbakar. Sekalipun bermusuhan dengannya, aku segera mengambil air dan menyiramkan ke tangannya. Namun siraman itu sama sekali tidak berarti. Nyala api terus bekobar-kobar. Lalu ia berlari dan menceburkan dirinya ke sungai. Namun saking besarnya, kobaran api itu bukan padam, malah kian berkobar dan menjilat habis tubuhnya. Demi Allah, biarpun ia menceburkan dirinya ke dalam sungai, api tersebut tidak padam. Tak pelak, Akhnas pun menjadi arang dan mengapung di permukaan air”.

Sumber: Muhammad Muhammadi, Cerita-cerita (Terj. M.J. Bafaqih), Penerbit Cahaya, Juni 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar