Label

Abu Dzar Bersama Nabi Saw –Bagian Terakhir


Oleh Ali Syari’ati

Ali lalu membawa Abu Dzar ke rumahnya. Tanpa saling berbicara, Abu Dzar tidur di sana. Gagasan apa yang direncanakan takdir?! Rumah ini, ini rumah Nabi, karena Ali, pada masa itu, adalah seorang laki-laki yang masih muda usia, yang tinggal di rumah Nabi. Peristiwa-peristiwa permulaan dalam perjalanan ini, yang menentukan nasib Abu Dzar dan dia, untuk pertama kalinya, datang dari gurun kepada Islam, inilah: orang pertama yang berbicara dengan dia di Makkah ialah Ali; rumah yang pertama di mana ia tidur ialah rumah Muhammad; orang pertama yang membawa dia dari keterasingan dan keterpencilan di kota itu ke rumah Muhammad, adalah Ali. Dan pertemuan-perteman serta peristiwa-peristiwa pertama ini yang memberikan bentuk kepada seluruh kehidupan Abu Dzar dan tinggal tetap bersama wujudnya sampai pada ajalnya.

Besok paginya, dalam mencari Muhammad, ia meninggalkan rumah Muhammad. Hari itu, tanpa hasil. Pada malam hari, sekali lagi, Ali yang datang untuk bertawaf, membawanya ke rumah, dan lagi, pagi berikutnya dan malam berikutnya, dan sekali ini ― pada malam ketiga ― Ali menambahkan sepatah kata kepada pertanyaan pendek yang diulang-ulang pada setiap malam, Apakah belum tiba saatnya bagi Anda untuk memberikan nama Anda dan mengatakan mengapa Anda datang ke kota ini?”

Abu Dzar, dengan hati-hati, mengatakan rahasianya kepada Ali, “Saya mendengar bahwa di kota ini telah muncul seseorang dan...”

Seberkas senyum, dari rasa gairah dan bahagia, memancar dari wajah Ali yang muda. Dalam nada yang penuh keramahan dan keakraban, ia berbicara kepadanya tentang Muhammad. Ia mengatur pertemuan bersamanya, “Malam ini saya akan membawa Anda ke tempat persembunyiannya. Saya berjalan lebih dahulu. Anda mengikuti dari jauh. Apabila saya melihat mata-mata, saya akan ke dinding dan membungkuk ke sepatu saya seakan-akan hendak mengikatnya. Anda berjalanlah meneruskan perjalanan Anda. Apabila bahaya telah berlalu, saya akan menyusul Anda.”

Inilah hari-hari Nabi yang sulit. Kota itu sepenuhnya merupakan ancaman dan bahaya. Musuh, satu front, dan para sahabat ― hanya tiga orang! Dan pada malam ini, Islam akan mendapatkan Muslim yang keempat.

Muhammad saw berada di rumah Arqam bin Abi Arqam di bukit Safa, beberapa langkah dari Masa’. Dalam kegelapan malam yang menakutkan, remaja putra Abi Thalib di depan dan putra Junadah Ghifari di belakangnya, mereka mendaki Safa, menuju Muhammad. Malam ini tampaknya seperti suatu pemandangan yang indah meliputi takdir mereka, suatu nasib yang segera akan dimulai. Selangkah demi selangkah, ia tumbuh makin akrab, dan pembakaran, nafas demi nafas, makin resah; iman dan keyakinan telah menaklukkannya. Ia tidak akan pergi sebelum melihat si pria yang mengaku Nabi itu, mengenalinya dan menguji dia. Ia mengemban janji untuk melihat kecintaan hatinya dan hasrat imannya. Sekarang ia hanya beberapa langkah dari rumah Arqam. Betapa sulit saat-saat ini! Menanggung saat-saat pertama dari kunjungan ini terasa seram. Cinta telah menawan Jundab. Putra Junadah telah dipenuhi dengan ‘dia’. Lebih banyak Muhammad berada dalam dirinya ketimbang dirinya sendiri. Putra Junadah bagai tertinggal di kejauhan dan terlupa dari ingatan pikiran Jundab. Hatinya telah terpaut pada bidang magnet yang bertenaga tinggi. Setiap detik, aroma yang akrab menghidupkan indera penciumannya, dan tepat pada detik ini, ia merasakan gaya tarik eksistensi Muhammad dengan seluruh wujudnya. Kehadirannya memenuhi area di sekitar Safa. Jundab tahu siapa Muhammad itu. Ia tahu apa yang dikatakannya... namun seperti apakah dia! Wajahnya? Bentuknya? Caranya berbicara? Kehidupannya? Apakah yang dapat dikatakannya kepadanya? Akan ada apa? Apa yang akan terjadi?

“Salam ‘alaik.” “Alaika salam wa rahmatullah.”

Dan, inilah salam yang pertama yang dilakukan dalam Islam. Kita tidak tahu berapa lamanya kunjungan ini. Sekalipun umpamanya sejarah telah mengatakan kepada kita, kita pun tidak juga akan tahu, karena pada detik-detik ini, waktu tidak berarti. Yang kita ketahui ialah bahwa putra Junadah masuk ke dalam rumah Arqam dan hilang di sana. Tiada seorang pun yang tahu ke mana ia pergi. Ia tidak pernah meninggalkan rumah Arqam. Jundab bin Junadah pergi, dan tiba-tiba, di samping Ka’bah, di puncak Safa, dari tempat persembunyian wahyu, cakrawala pagi Islam, bangkit suatu wajah, bersuluh fajar, berhenti sejenak. Dengan dua biji mata yang dipenuhi nyala api padang pasir, ia bergegas berpaling ke atas tembok yang membukit di lembah Makkah, dan melihat ke arah berhala-berhala di Ka’bah.

Patung-patung tolol itu seluruhnya telah menjamin pencarian syaitani akan keekslusifan dari ‘pemuja-pengukir’ mereka. Inilah saat pertama Abu Dzar melihat seperti itu, dan dengan rasa takjub dan marah, bertanya kepada dirinya, “Apakah yang sedang dilakukan oleh tiga ratus sekian berhala syirik di rumah tauhid Ibrahim?”

Ia bergegas turun dari Safa, seorang musafir, sendirian, terbakar dan penuh tekad. Nampak seakan-akan ia adalah Muhammad yang terbakar malam itu, bangkit dari api wahyu yang pertama meninggalkan gua itu, turun dari Hira; atau, ia laksana sebongkah batu yang digilas oleh gempa bumi, dari sebuah bukit, jatuh ke lembah Makkah yang dalam, ke atas kepala-kepala syirik, kemunafikan, dan kehinaan.

Islam masih tersembunyi di rumah Arqam. Rumah ini merupakan seluruh dunia Islam dan Ummah, yang dengan datangnya Abu Dzar, menjadi empat orang. Suasana taqiyyah [8] menguasai perjuangan itu. Ia telah diminta meninggalkan Makkah, tanpa ragu- ragu, untuk kembali ke Ghifar dan menunggu perintah. Tetapi dada bertulang dari putra gurun ini lebih lemah dari kemampuan menyembunyikan api itu dalam dirinya. Abu Dzar ― yang bertubuh tinggi semampai itu, adalah menara dari rumah suci keimanannya, yang tidak lain dari corong suara pekikan, dan bentuknya dengan hatinya yang bernyala-nyala dan dalam penyerahan kepada gurun pasir luas, nampak seakan-akan penuh pemberontakan, tiba-tiba mengental dan menjadi Abu Dzar ― tidak mampu bertaqiyyah; ia adalah pemberontakan itu sendiri ― situasi semacam itu menuntut kemampuan dan ia tidak mampu. “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.” [9]

Di depan Ka’bah, di hadapan berhala-berhala yang mengerikan, di samping Dar Al-Najua (Nadwa), senat Quraisy, ia bediri dan meneriakkan pekikan tauhid, ia menyerukan kepercayaannya akan misi Muhammad; ia menamakan berhala-berhala itu ‘batu-batu bisu yang telah mereka ukir sendiri’. Dan ini seruan pertama yang telah dibawa Islam; untuk pertama kalinya, seorang Muslim memberontak terhadap syirik. Jawaban dari syirik sudah jelas, maut! Kematian yang akan menjadi pelajaran syirik sudah jelas, maut! Kematian yang akan menjadi pelajaran bagi yang lain-lainnya. Tenggorokan pertama dari pekikan ini harus digorok sampai putus. Tanpa ragu-ragu, mereka menyerbunya, memukul kepalanya, mukanya, dadanya dan pinggangnya, sampai mereka memutuskan pekikan-pekikannya yang ‘seperti kafir’ ini.

Abbas tiba. Paman Nabi itu, yang pada waktu itu adalah pengumpul bunga uang dan segolongan dengan para aristokrat Quraisy serta kapitalis musyrikin, menakuti mereka dengan mengatakan, “orang ini dari Ghifar. Apabila kamu membunuh dia, maka pedang-pedang Ghifar akan menuntut balasnya terhadap kafilah dagangmu!” Mereka harus membuat keputusan antara agamanya atau dunianya, tuhan atau barang? Kiblat cinta atau kafilah uang. Yang mana? 

Mereka mundur tanpa ragu-ragu. Abu Dzar, seperti suatu patung, tercemar darah dan patuh, di tengah lingkaran suatu gerombolan ketakutan yang hanya melihat kepada tawanannya; dengan kesulitan, ia berusaha bangkit. Garis menengah lingkaran itu makin membesar. Ia bangkit, menopang dirinya pada kedua kakinya sendiri. Kerumunan itu makin padat; seakan-akan mereka mencari perlindungan antara satu sama lainnya. Di sinilah jalan kekerasan takut akan keimanan. Ia adalah satu wajah, dan mereka tidak berwajah, tidak berkepribadian, semua sendirian, semua tanpa identitas, ternak yang berlimpah-limpah; dan yang sedang menghadapi mereka, seorang manusia, satu pribadi-pribadi yang oleh iman telah diberi makna, isi, ideal-ideal, orientasi, serangan dan kekuatan yang menakjubkan, laksana mukjizat, tidak terkalahkan, yang telah dianugerahkan oleh syahadah kepada seorang mukmin.

Ia pergi. Ia membawa dirinya ke sumur zamzam. Ia membasuh luka-lukanya. Ia membersihkan bekas-bekas darahnya. Besoknya ia kembali ke gelanggang itu, sekai lagi ia menuju ke tepian maut. Abbas datang dan memperkenalkannya, “Ia dari suku Ghifar...”, dan sekali lagi, begitu pun esok harinya.

Sampai Nabi, sekali ini bukan untuk menyelamatkan nyawa Abu Dzar tetapi dengan suatu perintah, menggerakkan si pemberontak yang resah ini dari kota penindasan dan bahaya, dan memberikan kepadanya tugas untuk berdakwah kepada suku Ghifar.

Abu Dzar membawa seluruh keluarganya masuk Islam, dan, sedikit demi sedikit, seluruh sukunya masuk Islam. Ia sedang bersama-sama suku Ghifar ketika kaum Muslimin melewati kesulitan-kesulitan perjuangan di Makkah, ketika mereka berhijrah, dan di Madinah, ketika mereka bergerak dari tahap individualisasi ke tahap pembentukan sistem kemasyarakatan, dan sebagai akibatnya, peperangan pun dimulai.

Di sinilah Abu Dzar merasa bahwa ia barus berada di gelanggang; ia pergi ke Madinah, dan di sana, karena tidak mempunyai tempat atau pekerjaan, ia menjadikan Masjid Nabi sebagai rumahnya ― yang pada waktu itu adalah rumah manusia, dan bergabung dengan para sahabat Ahlu Shuffah. Ia mengorbankan kehidupan, demi akidah. Dalam melayani gerakan itu ―pada masa damai ― pikiran, pengetahuan dan sembahyang. Dan ―dalam masa peperangan ― pertempuran jasmani.

Islam, di bawah pimpinan Nabi, memuaskan segala kebutuhan manusiawi dan hasrat-hasrat sosial Abu Dzar; Islam, berdasarkan tauhid, membuka gerbang perjuangan. Di satu pihak adalah Tuhan, persamaan, agama, roti, cinta dan kekuatan, dan, pada pihak lain, kesombongan, tiran yang despotis, diskriminasi, kufur, kelaparan, dan, agamanya yang menuntut kelemahan dan kehinaan. Islam, untuk pertama kalinya, mengakhiri dongengan dari para penindas perampok yang telah membuat slogan untuk ‘menghendaki dunia ini atau akhirat’ menjadi kepercayaan rakyat, sehingga ‘dunia yang akan datang’ adalah untuk rakyat, dan dunia ini bagi dirinya sendiri, dan, dengan cara ini, mereka menganugerahkan kesucian Ilahi kepada kemiskinan.
Dalam persepsi yang tidak manusiawi ini, Islam membawa suatu revolusi yang sesungguhnya menjadi kenyataan yang mengatakan, ‘Kemiskinan itu kufur.’ “Barangsiapa tidak bernafkah, tidak akan terselamatkan.”

Karunia Allah, kekayaan yang besar (bagi masyarakat), kebaikan dan kebajikan, adalah bagian dari kehidupan jasadi, dan ‘roti’ adalah infrastruktur bagi peribadatan kepada Allah.” “Kemiskinan, kehinaan dan kelemahan, dan dengan semua ini, agama, kerohanian dan ketakwaan dalam suatu masyarakat?” Itu bohong! Karena inilah maka Nabinya Abu Dzar adalah seorang Nabi yang bersenjata; tauhidnya bukanlah falsafah subyektif individual spiritual. Tauhid harus terwujud dengan dukungan terpadu dari kesatuan ras dan bangsa-bangsa, kesatuan kelas, dan persamaan ― setiap orang menurut andil dan haknya ― yakni, suprastruktur yang deterministik dari tauhid tidak akan terwujud hanya dengan kata-kata; pedang harus menyertai amanat itu.

Karena inilah maka Abu Dzar membebaskan kehidupan pribadi jasadinya ― karena orang yang memerangi kelaparan harus menanggung laparnya sendiri, dan lapar itu dapat memberikan kebebasan kepada masyarakatnya yang telah mengalami pembebasannya sendiri ― dan menyerukan ‘peribadatan revolusioner’ yang merupakan kecermatan Islami dan kecermatan Ali, sehingga rakyat akan dipersiapkan dengan kebutuhan material dan persamaan ekonomik, bukan kecermatan mistik ala Kristen atau ala Budha.

Seperti inilah maka agama revolusioner ini, agama ‘dunia maupun akhirat’, agama yang bukan kelemahan dan bukan kebiharaan, bukan deprivasi dan bukan pemencilan dan alam dan ‘kecanduan Hari Terakhir’ dari makhluk manusia dalam alam, adalah agama ‘yang membuat manusia menjadi suci di dalam alam’, ‘khalifah Allah’ di bumi yang jasadi. Pemimpinnya, dan sebelum segala sesuatu, Nabinya, sedang hidup di masjid Tuhan dan di tengah manusia: Muhammad, Ali dan para Sahabat Shuffah: para Salman dan para Abu Dzar.

Abu Dzar sendiri dapat ditemui di serambi berpelindung (shuffah) di sudut masjid pada ketinggian sukses; ia telah menjadi salah satu dari sahabat akrab Nabi. Apabila ia tidak tampak dalam satu kelompok, Nabi akan menanyakannya; apabila ia ada dalam kelompok, beliau akan berpaling kepadanya di tengah-tengah pembicaraan. Di bawah pimpinan Nabi, dalam Perang Tabuk, ketika pasukan dalam kesulitan, melintasi gurun pasir utara yang membakar, untuk mencapai perbatasan (timur) empirium Romawi, Abu Dzar tercecer. Untanya yang kurus terhenti. Ia memerdekakan unta itu di bawah panggangan mentari dan meneruskan pejalanan seorang diri! Ia mendapatkan air; ia mengambil air itu untuk diberikan kepada ‘sahabatnya’ yang juga pasti sedang menderita kehausan di padang pasir seperti itu.

Nabi dan para mujahidin[10] melihat bahwa ada suatu titik yang tidak jelas sedang bergerak maju pada kedalaman gurun pasir yang ganas itu. Sedikit demi sedikit, mereka menyadari bahwa itu seorang manusia! Siapakah itu? Berjalan kaki di gurun yang membakar semacam itu, sendirian? Nabi, dengan kegairahan yang berlimpah dengan hasrat, berseru, “Semoga itu Abu Dzar!” Satu jam berlalu. Itu memang Abu Dzar. Ketika ia sampai kepada mujahidin itu, ia jatuh karena kehausan dan kelelahan.

“Anda membawa air, dan kehausan, Abu Dzar?” tanya Nabi.

“Saya pikir, di gurun seperti ini, dan di bawah terik matahari seperti ini,Engkau...” “Semoga Allah memberkati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian!” sabda Nabi.

Catatan:

3. Boleh jadi inilah maksud dari Ayat Al-Qur’an, Surat An-Nahl: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah, dan hanif... (QS. 16: 120) Yang dimaksud dengan hanif ialah orang yang berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.
4. Perdagangan dan perjalanan haji pada waktu itu adalah dua sisi dari mata uang yang sama dalam sejarah, dan dua kepala dari satu tubuh yang sama, ekonomi. Inilah rahasia di batik keterpaduan religius Quraisy pada Ka’bah. Inilah peranan berhala-berhala di Ka’bah itu, manifestasi-manifestasi dari ketergantungan politeisme dalam agama dan golongan syirik serta sistem kesukuan. Di sinilah harus dipahami peranan tauhid (monoteisme) yang revolusioner.
5. “Kufur” , menutupi, menanam, yakni, dalam bertani, benih ditanam (ditabur) kemudian ditutup dengan tanah. Di dalam hati manusia pun terdapat kebenaran, tetapi karena alasan- alasan tertentu, kebenaran itu ditutup oleh tirai hitam kejahilan, kedengkian, kepentingan-kepentingan nafsu diri sendiri atau kebebalan yang sungguh-sungguh; ini dinamakan kufur. Namun kufur ini tidak berarti menutupi kebenaran suatu agama dengan perantaraan sesuatu yang bukan agama. Sebaliknya, kufr berarti menutupi kebenaran suatu agama dengan perantaran suatu agama yang lain. (Kumpulan karya, jilid XXVI: Agama versus Agama, p. 8).
6. Al-Qur’an, surah al-Mudatstsir ayat 1-2.
7. Al-Qur’an, surah al-Qashash ayat 5.
8. Taqiyyah, sikap berdiam diri, tidak mengungkapkan, atau menyembunyikan suatu kebenaran, yang dipraktekkan dalam keadaan-keadaan tertentu, demi keselamatan akidah dan kelnaslahatan umat. Para penganut Syi’ah diwajibkan menprakteiskan taqiyyah dalam situasi demikian. Namun, dalam keadaan tertentu lainnya, taqiyyah dapat menjadi haram hukumnya, dan dilarang; misalnya, apabila nyawa seseorang terancam karenanya, apabila kezaliman merajalela, apabila kebenaran harus disebarkan secara umum dan terbuka, untuk melindungi Islam, atau dalam menghadapi panggilan jihad pada jalan Allah.
9. Al-Qur’an, Surah al-Baqarah ayat 286.
10. Mujahid: orang yang berjihad, yakni yang berjuang secara spiritual dan religius pada Jalan Allah. Bentuk jamaknya: mujahidin.

Sumber:
·  ABU DZAR
·  Pengarang : Dr. Ali Syari’ati

·  Penerbit : Muthahhari Paperbacks
·  Tahun Penerbitan : April 2001 M/Muharram 1422 H.

Abu Dzar Bersama Nabi Saw –Bagian Kedua




Oleh Ali Syari’ati

 “Tiga tahun sebelum saya bertemu dengan Nabi Allah, saya menyembah Allah.”

“Ke arah mana engkau menghadap?”

“Ke arah di mana Dia menyadarkan saya akan Diri-Nya.” Tiga tahun kemudian ia mendengar bahwa seorang laki-laki telah muncul di Makkah, yang mencela agama penduduk, yang menamakan barang-barang suci dari penduduk itu “palsu”; yang menamakan segala berhala besar di Ka’bah “batu-batu bisu dan bebal”; yang telah menempatkan Allah Yang Esa mengatasi segala yang dipertaruhkan.

Para musafir dan pelancong suku Ghifar menerima kabar ini seakan-akan suatu tragedi bagi agama dan etika Arab. Mereka berbicara tentang dia dengan kata-kata yang dipenuhi ejekan dan rasa tidak senang. Tetapi, Jundab, di tengah-tengah mereka, mendapatkan kembali dirinya yang telah hilang. Ia tahu bahwa apa pun yang dikutuk, dikatakan oleh para pemuja fosil ―yang telah menempelkan kecemaran syirik dan takhayul-takhayul jahil kepada Ibrahim, si penghancur berhala― yang ditafsirkan sebagai penyebab perpecahan dalam masyarakat, kelesuan kepercayaan, penyelewengan pikiran para pemuda, kelancangan rakyat jelata, goncangan terhadap basis moralitas dan keimanan, penyebab dari pesimisme dan keterpisahan antara seorang remaja putra dan putri dengan ibu dan ayahnya, sebab dari ejekan terhadap bangsawan, para muliawan dan tokoh-tokoh keagamaan, lenyapnya penghormatan terhadap para leluhur, keotentikan mitos-mitos dan adat istiadat lama dari nenek moyang dan datuk kakek dan... semuanya adalah isyarat-isyarat yang jelas akan suatu revolusi penyelamatan dan tanda-tanda yang kukuh akan kebenaran Ilahi.

Dan Jundab ―yang berasal dan kalangan jiwa-jiwa revolusioner yang bergelora, yang tidak menjadi kaku membatu dalam adonan sempit tradisi-tradisi sosial dan keturunan, tidak ketinggalan dari gerakan, kreatifitas, kemampuan untuk berubah, transformasi dan kemampuan untuk memilih― merasakan bahwa ada sesuatu di udara; inilah tepatnya apa yang dicari-cari oleh rohaninya yang tidak terpelajar dan oleh pikirannya yang telah bebas dalam kesunyian gurun pasir, dalam kesepian batinnya.

Ia tidak diam mendengar ‘berita’ ini. Tanggung jawab mewajibkan dia mulai mencari, dan bukan untuk mendasarkan keyakinan dan penilaiannya atas desas-desus, propaganda, kebohongan, fitnah-fitnah dan pemalsuan yang beruntun, yang dibangun oleh kaum elite yang hanya mementingkan diri sendiri dan disiarkan oleh penduduk yang telah merosot; ia sendiri harus bangkit dan menyelidik, karena penilaian seseorang adalah tanda yang paling dapat dimengerti dari kepribadiannya. Barangsiapa memberi penilaian terhadap seseorang, sesuatu pikiran, sesuatu tindakan, sesuatu gerakan dan terhadap setiap realitas, mendasarkannya pada apa yang telah dikatakan orang ― dan sumber dari semua pemikiran dan penilaian mereka ialah ‘Si Anu dan Fulan mengatakan...’ ― sebelum mereka secara jahil dan tidak adil mengutuk sesuatu kebenaran, mereka adalah orang-orang tertindas yang telah mengutuk dirinya sendiri ke dalam jeratan perbudakan intelektual dari kekuatan-kekuatan zamannya, para majikan pembuat takhayul dan sarana propaganda mereka yang nyata dan tersembunyi ― mereka telah menunjukkan dirinya sebagai para pembuat desas-desus, fitnah dan kebohongan-kebohongan, yang impoten, yang telah diberikan tugas khusus oleh musuh, struktur-struktur munafik; si penghasut menyebarkan dan rakyat menerima!

Namun, putra Junadah mengutus saudara lelakinya, Anis, ke Makkah, untuk melihat dari dekat si pria ― yang dikutuk sebagai pembohong, gila, penyihir, penyair dan kafir, yang kata mereka telah datang untuk mencemarkan kehormatan rumah Tuhan, mengubah kesatuan masyarakat menjadi pembentrokan dan perpecahan, serta solidaritas keluarga menjadi perselisihan dan permusuhan ― memperhatikan kata-katanya, menangkap pesannya dan memberikan laporan kepadanya.

Anis datang ke Makkah. Ia tidak menemukan laki-laki itu. Tiada seorang pun menunjukkan kepadanya, orang asing yang tidak bernama, dan tidak bertempat ini. Dengan putus asa ia mencari di seluruh kota. Ia tidak mendengar sesuatu selain caci maki, ejekan, sikap tidak suka dan kebencian, terhadap laki-laki ini. Setiap tempat ― masjid, pasar ― dan orang, terutama “orang-orang yang terhormat”, “tokoh-tokoh ternama”, “gembong-gembong keagamaan dan dunia”, dan juga, pada khususnya “para pemuja yang beriman dan orang-orang yang berprasangka religius”, “orang-orang yang percaya akan tradisi-tradisi Ibrahim dan rumah Ibrahim!” mengulangi kata-kata dan desas desus yang senada tentang dia, yang mencapai tingkat jalinan yang beruntun:

“Ia gila, ia ahli sihir. Godaan kata-katanya bukanlah gaya tarik dari wahyu; itu sihir, itu bukan keindahan dari kebenaran, itu syair; ia tidak menerima kata-katanya dari Jibril; kata-katanya bukan pula kata-katanya sendiri; seorang ulama asing mengatakan apa yang harus dikatakannya, ia mendapatkannya dari seorang rahib Kristen, seorang cendekiawan Iran; ia adalah malapetaka yang menimpa umat Ibrahim; ia memorak-porandakan kehormatan masjid, kesucian Rumah Tuhan, tradisi ziarah ke Ka’bah, pemuja dewa-etika, penghormatan atas keluarga, serta semua kehormatan dan nilai-nilai dari nenek moyang kita.”

Tiba-tiba, serentak, di salah satu dari lorong-lorong sempit Makkah, ia melihat sekumpulan besar orang sedang berkerumun di suatu sudut. Ia ke sana: seorang pria sendirian, berwajah cerah, dengan pandangan yang membangunkan kedalaman jiwanya, alis yang terbuka dan tenang, sosok tubuh yang berukuran sedang, bentuk agresif, dan dalam pada itu, keramahan dan kasih sayang yang memberi inspirasi; dengan suara jantan, tegas dan pasti, dan, pada saat yang sama, manis dan penuh kehalusan; dengan kata-kata yang mendalam, nada yang menyedapkan dan lebih indah dari seni syair, penuh takwa dan harapan. Anis berdiri di hadapannya. Ia tidak tahu: apakah akan mendengarkan kata-katanya, memberikan hatinya kepada karismanya, atau sekadar memperhatikan segala keindahan dan keramahan posturnya, pandangannya, perilakunya atau kata-katanya?

Ia masih dalam kebingungan melihat pria ini, ketika sekelompok laki-laki membuat huru-hara. Tanpa memperhatikan kata-katanya dan mendengarkan jawabannya, mereka menciptakan banjir caci maki dan fitnah yang diulang-ulang, yang telah dipersiapkan sebelumnya, ke arah kepala dan wajahnya; dan, kejahilan dari orang-orang tidak berprasangka yang tidak mempunyai apa-apa sehingga tidak akan kehilangan apa-apa dalam “penerangan risalah” itu; dan “revolusi dari misi itu”, yang mereka sendiri terkutuk oleh sistem kekuasaan dan pengorbanan-pengorbanan dari status quo itu, telah membuat mereka menjadi boneka-boneka dari tirani dan terperangkap oleh penjara-penjara mereka sendiri, massa rakyat, dengan kegairahan yang jelek dan pembiusan, memekikkan apa yang telah dimasukkan oleh orang-orang yang berperasangka ke dalam mulut mereka.

Mereka mendorong “rasul yang sendirian” itu dengan kemarahan atau keberangan, atau mereka menarik diri darinya dengan caci maki dan ejekan, dan meninggalkannya sendirian. Karena ia memiliki ketabahan dan ketenangan surgawi serta neraca kesabaran, dan kekukuhan bak gunung ― karena ia telah turun dari Hira’ dan telah membawa risalah ilahi ― maka pukulan kemarahan dan gelapnya kejahilan tidak mempengaruhi, tidak meninggalkan garis kemarahan pada wajahnya yang berlimpah-limpah dengan keramahan dan kasih sayang. Ia bergegas ke suatu tempat lain dan, di tengah suatu kelompok lain, kata-katanya mulai lagi, sekali lagi, setelah orang menutup kuping dan otak, caci maki dan tuduhan fitnahan dan ejekan, lagi ia ke tempat-tempat lain, dan sekali lagi, memulai kata-katanya!

Ia berkelana di sepanjang wilayah kota itu, di jalan dan pasar, tempat berkumpul dan masjid; ia pergi ke mana-mana mencari manusia. Ia berdiri di sepanjang jalan orang, dan tanpa memikirkan jawaban-jawaban memberi ketakutan kepada mereka, memberikan kabar gembira kepada mereka, memperingatkan mereka akan suatu bahaya, menunjukkan kepada mereka jalan keselamatan, karena ia mengemban suatu pesan, karena ia mengemban suatu misi, bahwa Allah ‘Sahabat orang-orang terhormat’ dan ‘Musuh orang-orang yang sombong’, telah berseru kepadanya, “Hai orang yang berselimut! Bangunlah, dan berilah peringatan!”[6]. Peringatkanlah orang-orang yang terlena dalam ketenangan jahiliah dan keamanan tirani, yang membuat srigala menjadi gembala pengusap kemiskinan dan kehinaan! Wahai, gembala yang ditunjuk! Bebaskan biri-biri itu dari gurun pasir Qarar, karena di kota Tuhan, manusia menjadi gembala! Tuhannya Ibrahim membuat seluruh malaikat bersujud ke bumi di hadapan kaki Adam, dan sekarang, di rumah Ibrahim, anak-anak Adam dibuat bersujud di muka bumi, di hadapan kaki fosil-fosil Iblis pelindung suku dan golongan.

Walaupun adanya badai fitnah, persekongkolan, ancaman dan ejekan yang ditimbulkan oleh para aristokrat nista serta sekutu-sekutu bebal untuk membungkamkannya, membuatnya diam, ia tetap bicara, ‘Tuhan kaum mustadh’afin, kaum tertindas, telah mengatakan, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka para pewaris.” [7]

Anis melihat kepada pria ini, mengikuti dia, mendengarkan kata-katanya dan memikirkan tentang kehidupannya, kehidupan yang membingungkan dan menakjubkan, namun keajaiban-keajaiban dari wujud pria itu sendiri, daya tarik dari kehadirannya, karisma perilaku dan keindahannya begitu memukau dan menawan dia, sehingga ia lebih menjadi penonton pria ini ketimbang sebagai pendengar.

Segala keramahan dalam segala kesulitan ini, segala keindahan dalam segala kekukuhan ini, segala ketegasan dalam segala kecemasan ini; segala pengabdian dalam segala pemberontakan ini, segala ketekunan dalam segala kepedihan ini, segala kekuatan dari segala kelemahan ini, segala yang memalukan dalam segala keberanian ini, segala ketenangan dalam segala keresahan ini, segala kesabaran dalam segala ketidaksabaran ini, segala kerendahan dalam segala yang mencengangkan ini, segala-gala dari cinta, ilham, dan emosi, keindahan dan kejutan perasaan dan hati dalam segala kebijakan, logika, kewaspadaan, kesungguhan, kepahlawanan dan kecerdasan, dan akhirnya, dengan segala ‘yang samawi’ dan segala yang ‘nampak sebagai duniawi’; segala peribadatan kepada Tuhan ini, dan apa yang dapat saya katakan? Segala sikap agresif dan kepastian dan segala ini... dan ia sendirian.

Keajaiban seorang pria ini, melemparkan hingar bingar dan jeritan ke dalam diri Anis. Sehingga ia tidak mendengarkan kata-katanya dan keajaiban nada suaranya menyebabkan rasa takjub muncul dalam dirinya ― karena ia sedang mendengarkan Kata-Kata Tuhan untuk pertama kalinya ―sehingga ia tidak mampu memahami artinya; Anis ― saudara Jundab ― adalah seorang badui muda, ‘tidak mengetahui’ apa yang yang dikatakan pria itu, namun melalui nalurinya yang kuat, melalui watak fitriah yang jelas dari ‘rohani badui’, ‘pribadi fitriah’ di mana ‘logika’ belum pernah menggantikan ‘kesadaran’, ia mendapatkan bahwa pria itu adalah suatu ‘event’. Ia menyadari, melalui indera perasaannya, bahwa kata-kata ini datang dari suatu dunia lain, ia tidak memahami kebenaran itu, ia tidak mengerti arti dari kata-kata itu, ia tidak sampai mengenal pria itu, namun ia mencium wanginya wahyu, merasakan selera kebenaran dan merasakan kehangatan iman yang tak terlukiskan.

Dan Abu Dzar, resah di gurun pasir, dengan cemas menanti di jalan ke Arab Makkah.

“Anis, saudaraku, apakah engkau melihatnya? Adakah engkau mendengarkan kata-katanya? Apa yang dikatakannya? Siapakah ia?”

“Ia seorang laki-laki yang sendirian. Sukunya menyusahkan dia, dan menunjukkan permusuhan, tetapi ia sabar dan ramah; apabila suatu kerumunan manusia menolak dia atau meninggalkan dia dengan caci maki dan ejekan, ia berpindah ke kelompok lain dan mulai bicara lagi.”

“Katakan kepada saya, Anis! Katakan apa yang dikatakannya! Untuk apa dia mengajak manusia?”

“Saya bersumpah demi Tuhan, betapa pun saya berusaha untuk memahami apa yang dikatakannya, saya tidak mengerti, tetap kata-katanya bagaikan penawar yang sangat lezat dan lari masuk menembus jiwa saya!”

Abu Dzar, dalam mencari pesan itu, tidak mempunyai rasa ingin tahu sebagai seorang ilmuwan atau untuk hiburan intelektual. Ia gelisah dan haus, dan Anis bahkan tidak membawa setetes air pun baginya dari sumber. Ia bergegas bangkit, dan tanpa duduk sejenak untuk merenungkan mengapa dan untuk apa perjalanan itu serta akibatnya, ia menempuh perjalanan panjang dari tanah suku Ghifar ke Makkah. Sepanjang jalan, musafir itu, perjalanan itu, jalan dari perjalanan itu, dan tujuan yang terakhir, semuanya adalah ‘ia’.

Ia pergi dan iman pun datang. Ya, keimanan datang padanya. Lalu ia sampai di Makkah. Seorang laki-laki dari suku Ghifar di tengah-tengah para pemimpin kafilah Quraisy, dan para kapitalis! Ia mencari seorang laki-laki, yang menyebutkan namanya saja sudah merupakan kejahatan di kota ini. Ia mencari sepanjang hari di lorong-lorong kota Makkah, pasar dan Masjid al-Haram. Ia tidak mendapatkan apa pun. Ia pergi tidur di Masjid al-Haram, sendirian dan kelaparan, ketika Ali, yang setiap malam, sebelum pulang ke rumah, datang ke masjid itu dan melakukan tawaf ― sesuai dengan tradisi Ibrahim ― dan kemudian ke rumah, melihat Abu Dzar sedang sendirian, tertidur di atas debu.

“Anda nampaknya seperti orang asing!”

Abu Dzar Bersama Nabi Saw –Bagian Pertama


Oleh Ali Syari’ati

Dalam kegelapan yang meliputi malam penindasan, fajar sedang menanti matahari lain yang akan terbit, dunia sedang dalam ketenangan menjelang badai, dan sejarah merenungkan suatu pemberontakan besar melawan dewa-dewa duniawi serta bayang-bayang dan tanda-tandanya ―dewa-dewa langit: politeisme dan syirik.

Pada kedalaman dari kesadaran-kesadaran yang ternaung dalam bayangan “kehendak Ilahi” dan dalam ketersembunyian watak-watak fitriah, yang pada lahimya tampak berhubungan dengan hakikat wujud, perubahan-perubahan yang tidak dapat dilukiskan dan ganjil, mulai muncul, hanya sebagai suatu pengertian berupa penciuman indera rahasia burung-burung liar yang merasakan akan datangnya badai dan secara tergesa-gesa berpindah dari tempatnya, sebagai naluri misterius dari seekor kuda waspada yang bangkit menjelang peristiwa gempa bumi, memutuskan tali kekangnya dan meninggalkan rumah tuanya, tanpa pelana, tanpa penunggang, menuju padang pasir ―rohani-rohani yang kesepian merasakan bahwa ada sesuatu di udara, sesuatu yang besar! Kadang-kadang seorang pribadi adalah suatu dunia, dan kadang-kadang seorang individu adalah suatu masyarakat. [3]

Dan Jundan putra Junadah, seorang Arab badui dari Ghifar, suku yang terlanda kemiskinan di Rabadzah, suatu gurun di antara Makkah dan Madinah, di jalan kafilah perdagangan Quraisy dan kafilah peziarah Ka’bah, bersama orang-orang yang tak tahu malu, tidak mengenal takut akan adat istiadat, tak kenal tata aturan dan hukum, dan karenanya, di mata orang yang tinggal dalam lindungan peraturan-peraturan dan sistem-sistem ini dan menjadi makmur karena keuntungan dan keamanan ―terkenal jahat, tidak peduli, dan berakhlak buruk! Karena akhlak atau etika di sini berarti mengikuti adat istiadat, menaati hukum-hukum, yang semuanya melindungi tembok-tembok yang meliputi eksklusivitas dan hak-hak istimewa: kebenaran dan hak-hak, tata tertib dan keamanan, dan semua ini demikian adanya, supaya orang ini dapat makan enak dan bersenang-senang sebagai kepala pada pesta-pesta mewah dikitari sekelompok orang-orang lapar.

Ghifar, suku yang tekenal jahat, bandit-bandit! Para perampok barang-barang dan budak-budak kafilah dagang, ugal-ugalan, yang bahkan tidak menghormati keempat bulan suci. Mereka juga menganggu keamanan yang menguasai semenanjung itu. Ketika para kafilah dagang ―yang bergerak antara Roma, Makkah dan Iran, di bawah perlindungan agama sepanjang bulan-bulan ziarah ini― melintasi tempat yang berbahaya Rabadzah,[4] mereka sekali lagi melihat orang Ghifar, dengan pedang di atas kepala, meluncur menyerang mereka dari tempat hadangan. Rakyat Ghifar, orang-orang miskin, pendosa, jahat, alih-alih menadahkan tangan bak mangkuk pengemis kepada kafilah-kafilah dagang, mereka memberikan pedangnya kepada para majikan itu!

Putra Junadah adalah salah seorang dari mereka, dan inilah sebabnya mengapa kemudian ketika ia telah menjadi Abu Dzar, “Ia bingung memikirkan seorang lapar yang tidak mempunyai roti di rumahnya, tetapi tidak bangkit, menghunus pedang dan memberontak.” Jundan putra Junadah, seperti setiap pria dari suku Ghifar, mengetahui bahwa dalam suatu sistem tirani, setiap hukum dan peraturan, adat dan etika, tata tertib dan keamanan, adalah pelindung tirani, dan menaatinya adalah kejahilan. Namun ia mengambil suatu langkah ―maju lebih jauh dari siapa pun lainnya― ia mengetahui bahwa di sini agama yang berkuasa mempunyai peranan yang sama, dan menaatinya adalah kufur. [5]

Dan berhala? Apakah itu? Pada suatu malam, ketika suku itu pergi berziarah ke Manat ―berhala suku Ghifar― dan dengan hasrat, bahagia, gairah dan semangat, berdoa, memuja, bersumpah dan memohon, menghasratkan hujan untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan dan kekeringan yang mengancamkan maut kepada suku Ghifar, ia, dalam kedalaman keyakinannya, merasakan api suci keraguan.

Api kearifan ini dinyalakan selanjutnya dalam angin sepoi renungan dan pertimbangan yang mendalam dan menerus ketika suku itu jatuh tidur; ketenangan yang misterius menguasai lingkungan Manat, di padang gurun, malam dan langit; ia bangkit dengan diam-diam, memungut sebongkah batu, dengan ketidakpastian dan terombang-ambing antara keraguan dan keyakinan, ia maju; untuk sejenak ia terpaku memandang kedua mata dewa zamannya. Ia tidak mendapatkan sesuatu, kecuali dua biji mata yang tidak melihat; dengan segala kemarahan dan kebenciannya, ia melempar berhala itu, yang diukir oleh kejahilan dan tirani, dengan batin itu.

Bunyi batu yang menghantam batu, dan... kemudian tidak ada apa-apa.

Kembali dalam keselamatan kepada Yang Mutlak, setelah terbebas dan rantai, ikatan dan belenggu yang seakan-akan telah melilit jiwanya selama berabad-abad, ia tiba-tiba merasakan bahwa ia, sendirian dan tak dikenal telah meninggalkan suatu lobang yang dalam dan gua yang sempit lagi gelap, di mana ia telah dipenjarakan sejak awal penciptaan. Ia melihat ke padang gurun, suatu rentangan luas yang tidak bertepian; sampai ke batas cakrawala, jauh, luas, dan angin! penuh kemuliaan, indah, dalam dan misterius... seakan-akan ia melihat, dan baru dapat melihatnya, untuk pertama kalinya.

Melalui keyakinan dan kepastian, ia telah mencapai kebebasan dan kelegaan. Sedikit demi sedikit, kuncup-kuncup baru iman dan kepastian, tetapi jelas, luas, dalam, sadar, apa yang dipilihnya sendiri telah merekah!

Di bawah hujan pikiran yang tidak putus-putusnya bertambah deras, ia merasakan bahwa sumber-sumber air terbuka baginya dalam gurun batin yang gelap, kering dahaga, dan sekarang, suara ‘derap air!’ dan setiap saat makin lama makin cepat, meninggi dan terus semakin tinggi dan menempati seluruh batinnya; ia dipenuhinya. Dalam pembakaran yang perih dan kecemasan yang pedih dan suatu kelahiran, sendirian di dunia, hanya suatu bayangan di padang pasir, di tengah malam, di bawah langit gurun yang menyaksikan, seluruh wujudnya dialamatkan kepada ‘Dia!’, ia tiba-tiba tersungkur ke pasir, kepalanya sujud di atas bumi. Dan suara kegelisahan, sentimen-sentimen lama terlepas ―menangis.

Inilah sembahyang Abu Dzar yang pertama.