Label

Puisi Wislawa Szymborska





Cinta pada Pandangan Pertama

Dua jiwa telah percaya
bahwa satu ikatan rasa telah merengkuh mereka.
Keindahan adalah sebuah kepastian
tapi ketidakpastian, ia jauh lebih indah.

Karena sebelumnya mereka tak mengenal satu sama lain,
mereka menduga bahwatiada yang terjadi diantara mereka.
Lalu bagaimana dengan dua sisi jalanan,
ratusan anak tangga, dan lorong demi lorong
dimana mereka saling berpapasan jauh di masa sebelumnya?

Aku ingin bertanya pada mereka
ingatkah pada suatu ketika –mungkin saja
saat melintasi pintu yang berputar
wajah mereka saling bersua?
sebuah “permisi” di tengah keramaian
atau seruan “salah sambung” pada sebuah panggilan.
Namun aku tahu jawaban mereka:
tidak, mereka tak ingat itu semua.

Mereka akan sangat-sangat takjub
untuk mengerti bahwa sekian lamanya
pintu kementakan telah bermain-main dengan mereka.

Sang peluang belum sepenuhnya siap
untuk menjadi takdir bagi mereka
ia muncul sesaat, kemudian mundur seketika
menghalangi jalan mereka
dan seraya tertawa nakal
ia melompat ke tepi masa

Selalu ada tanda demi tanda, isyarat demi isyarat:
tapi apalah artinya jika mereka tiada terbaca.
Bisa jadi tiga tahun yang t’lah lalu
atau mungkin kemarin Rabu
secarik selebaran tertiup bayu
dari bahu sampai ke bahu?

Ada yang lenyap dan ada yang tertemu.
Siapa yang tahu jika ia adalah sebuah bola
di rimbunnya semak masa kanak-kanak.

Di antara puluhan bel dan gagang pintu
dimana ratusan jejak sentuhan menumpuk saling bertemu
Pun ketika koper mereka berdampingan di ruang bagasi.
Mungkin mereka saling berbagi mimpi di malam hari
namun –sayangnya- terhapuskan di kala pagi.

Setiap mula
adalah keberlanjutan nan niscaya
dan lauhul mahfudz
tak akan pernah sepenuhnya terbuka.

Diterjemahkan dari versi Ingris oleh M. Syahid Sundana


Beda Petani di Jepang, Eropa, dan Indonesia


Telah umum diketahui beberapa perbedaan yang mencolok antara petani Indonesia, Jepang, dan Eropa. Petani di luar negeri bertolak belakang dengan petani di Indonesia, di mana betapa enaknya menjadi petani di Jepang dan Eropa. Atas nama kesejahteraan petani, pemerintah Jepang dari dulu hingga kini menutup rapat-rapat pintu bagi beras dari luar negeri. Tak sebutir beras asing pun boleh masuk ke pasar Jepang.

Juga demi kesejahteraan petani di benua Eropa, pemerintah di masing-masing negara memberi perlindungan maksimal terhadap semua produk pertanian dari serbuan produk impor. Masih tersimpan di benak banyak orang, bagaimana gigihnya juru runding Uni Eropa di forum World Trade Organization (WTO) menolak tuntutan puluhan negara berkembang, plus Amerika Serikat dan negara-negara di Amerika Selatan, agar Eropa menghilangkan atau setidaknya menurunkan subsidi ke sektor pertaniannya.

Untuk melindungi petani mereka, Uni Eropa bahkan pasang badan untuk menerima tuduhan sebagai pihak yang menggagalkan keinginan bangsa-bangsa di dunia membentuk rezim perdagangan baru. Bisa anda bayangkan, betapa nyamannya hidup sebagai petani di Jepang dan Eropa.

Bagaimana di Indonesia? Jawabnya gamblang saja: betapa tidak enaknya menjadi petani di negara ini. Alih-alih dilindungi, yang didapatkan petani kita dari waktu ke waktu tak lebih dari penganiayaan demi penganiayaan. Keberpihakan kepada mereka hanya sebatas kata-kata di ruang rapat serta pernyataan, iming-iming dan janji-janji yang disuarakan dengan lantang untuk konsumsi publik. Puluhan tahun sudah petani Indonesia diiming-imingi dengan ratusan janji bagi perbaikan derajat hidup mereka. Realisasinya? Nol besar!

Bukannya kesejahteraan yang mereka dapatkan, melainkan meningkatnya derajat kemiskinan mereka. Jutaan petani tak lagi punya ladang karena sudah dibeli orang kota dan tanah-tanah mereka sudah menjadi milik pabrik dan para korporat. Bahkan nasib mereka banyak yang berujung pada status sebagai buruh tani. 


Galeri Baca dan Taman Bunga

 Padang Lavender.
 Lukisan karya Mehrdad Jamshidi (Iran 1970)
 Perempuan Iran.
Sanaz Mazinani, Woman Reading on the Bus, Tehran, Iran.

Ragam Dunia

 Balon Raksasa.
 Burung-Burung di Musim Dingin.
 Kerjasama dan Solidaritas.
 Olaharaga Ekstrem.
 Hijrah.
 Memperhatikan.
 Kubah Raksasa.
 Kalimantan, Indonesia.
 Mistik Pagihari.
Terpana.

Etalase Buku Sastra


Sajak-sajak yang termaktub dalam buku antologi puisi karya penyair Sulaiman Djaya ini menyuguhkan 69 sajak yang menampilkan dan menyuarakan ragam tema. Tampak juga sajak-sajak yang termuat dalam Mazmur Musim Sunyi ini tampil dalam aneka gaya dan bentuk puitika: mulai dari kwatrin hingga puisi prosaik, dari bentuk ode hingga balada, dan tak lupa juga sajak-sajak yang berbentuk atau bergaya meditatif kedalam, hening, dan berusaha menyelami realitas yang ingin “direnungi” dan ingin “dibaginya” dengan para pembaca, semisal sajak-sajak yang bernada sufistik dan sajak-sajak permenungan personal penyairnya.

Dan tak lupa juga, buku Mazmur Musim Sunyi ini pun memuat sejumlah sajak cinta romantis dan sajak cinta renyah yang terkesan rileks dan bercanda, selain tentu saja ada juga sajak-sajak yang bercerita tentang kenangan penyairnya, seperti sajak-sajak yang bertema dan berjudul tentang "Ibu". Untuk yang berminat membeli, bisa pesan ke: 0815-4614-7625. Harga Rp. 50.000 (Sudah termasuk ongkos kirim). 


Pendapat Para Penulis tentang Buku Mazmur Musim Sunyi

Keberhasilan Sulaiman Djaya adalah memainkan personifikasi dan hiperbola dalam setiap puisi-puisinya. Material dihidupkan oleh teknik seorang penyair, bukan alami. Ini salah satu gaya yang dimiliki oleh SD (Heri Maja Kelana, penulis dan pecinta sepeda).

Puisi-puisi penyair Sulaiman Djaya yang terkumpul dalam buku Mazmur Musim Sunyi ini menyiratkan keseimbangan kecerdasan pikiran dan tangan sebagai “sekembar” aktus intelegensia itu sendiri. Bagi penulis, gagasan itu di dalam tangan yang sekaligus bekerja kompak dengan intuisi dan pikirannya. Terlihat juga dalam beberapa sajaknya yang prosaik, selain sajak-sajaknya yang tertib laiknya puitika kwatrin itu, menampilkan diri dengan lincah sekaligus rileks (M. Taufan, penyair tinggal di Bekasi).

Di dalam bis, di Smoking Area saya buka buku Mazmur Musim Sunyi. Saya menemukan puisi berjudul "Monolog". Ada bagian menarik di puisi itu, seperti berikut: Saya tahu seorang penyair harus belajar menulis puisi yang kata pertamanya bukan aku. Saya merenungi kalimat tersebut. Seorang penyair harus belajar menulis puisi yang kata pertamanya bukan aku. "Aku" ini, aku sebagai kediriankah? Jika memang demikian, saya setuju. Penyair harus bisa menulis puisi yang tidak hanya berkutat dengan kediriannya, sebab ada banyak hal di luar diri yang juga penting dan esensial untuk dituliskan (Lutfi Mardiansyah, penyair tinggal di Sukabumi).

Simbol-simbol waktu yang ditanam Sulaiman Djaya dalam puisi-puisinya mengingatkan pada sumpah Tuhan atas nama makhluknya, yakni “Demi Waktu”. Keberadaan waktu dalam kehidupan memang misterius. Ia seperti sangat jauh padahal begitu dekat. Seperti sangat renggang padahal begitu rapat dengan tubuh dan ruh manusia (M. Rois Rinaldi, penulis tinggal di Cilegon).

Akan banyak sekali yang ditemukan dari puisi-puisi yang terhimpun dalam Mazmur Musim Sunyi Sulaiman Djaya ini, yang secara tanpa sadar menggunakan citraan warna-warna untuk menandakan benda-benda. Sebut saja “putih beludru” dalam puisi “Memoar”, “November yang agak ungu” untuk latar waktu pada puisi “Surat Cinta”, “mendengar putih bintang-bintang”, “tahun-tahun adalah kibasan perak warna kelabu yang jadi biru”, “hijau musim di wajahmu yang matang”, “senja tampak marun”, “langit kuning bulan Mei”, “akhirnya datanglah Desember putih”, dan masih banyak lagi yang lainnya yang kemudian dapat disandingkan dengan penanda waktu (Mugya Syahreza Santosa, penyair tinggal di Bandung).