Label

Agama dan Filsafat Zarathustra Persia



Oleh Djoanne M.

Zoroaster (Zarathustra) adalah seorang imam pengajar. Ajarannya diabadikan dalam 17 puji-pujian yang disebut Gatnas [1].  Puji-pujian yang diabadikan tersebut tertulis dalam bentuk puisi-puisi yang hanya dimengerti oleh sebagian orang, sehingga sulit untuk di terjemahkan. Penganut Zoroastrianisme beribadat kepada Ahura Mazda di dalam “kuil api”. Kuil api sendiri artinya sebuah tempat dimana api terus menyala. Zoroastrianisme menekankan peran Ahura Mazda, sebagai pencipta yang baik tanpa ada kejahatan di dalamnya. Dengan kata lain, Zoroastrianisme mengajarkan kebaikan dan kejahatan memiliki sumber-sumber yang berbeda. Di sini sang penciptaan Mazda menjadi pelindung atas kejahatan yang berusaha menghancurkan. Teks yang paling penting dari agama ini adalah dari Avesta.

Zoroastrianisme merupakan ajaran yang sangat kuno dalam masyarakat Iran (Persia). Ajaran ini disebut juga sebagai agama nasional Iran selama berabad-abad sebelum terpinggirkan oleh agama Islam pada abad ke-7. [2] Sebutan untuk pengikut ajaran ini disebut juga dalam bahasa Inggris, yakni Zoroaster, Zarathustrian atau Behdin, yang berarti pengikut Daena.

KEBERADAAN dan PERKEMBANGAN ZOROASTRIANISME
Zoroastrianisme merupakan salah satu ajaran tertua, yakni sekitar awal milenium pertama SM. Sejarawan Herodotus (akhir 440 SM) menjelaskan bahwa masyarakat Iran Greater mengenal Zoroaster pada periode awal zaman Achaemenid (648-330 SM), khususnya yang berkaitan dengan peran orang Majus. Menurut Herodotus, orang Majus adalah suku keenam dari Median (sampai penyatuan Kerajaan Persia di bawah pemerintahan kaisar Cyrus Agung, di mana semua Iran disebut sebagai "Mede" atau "Mada" oleh bangsa-bangsa Dunia Kuno).

Walaupun tidak dijelaskan bahwa Cyrus II adalah seorang pengikut dan penganut ajaran Zoroaster (Zarathustra), namun pengaruh ajaran Zoroastrianisme kemudian yang memungkinkan Koresy (Cyrus Agung) membebaskan orang-orang Yahudi dari penawanan Babilonia di masa Nebukadnezzar dan memungkinkan untuk kembali ke Yudea, ketika kaisar Cyrus Agung mengalahkan Babel (Babilonia) pada tahun 539 SM. 

Menurut prasasti Behistum, Darius adalah pemuja Ahura Mazda. Setelah Darius I, dalam prasasti Achaemenid, kaisar Akhemenid mengakui pengabdiannya kepada Ahura Mazda, yang kemudian dikenal dalam sejumlah teks Zoroaster Avesta.  Kemudian pada pemerintahan Siculus, Raja sekitar tahun 60 SM muncul untuk mendukung Zoroaster. [3]

Pengikut Zoroaster (Zarathustra) percaya juga pada 6 kekuatan roh, yaitu sesuatu yang bukan Tuhan dan juga tidak tepat jika dikatakan makhluk. 6 Roh tersebut adalah, sbb: [4]

[1] Vohu Mada yaitu roh yang memiliki jiwa berbudi dan mati di surga. Kadang-kadang dia disebut pikiran yang baik atau penglihatan yang baik, dan dia  akan memberikan dua macam kebijaksanaan pada siapa yang memperhatikannya. Vohu Mada mengharuskan Umat Zoroaster mengorbankan binatang untuknya,  sekarang umat mempersembahkan susu dan mentega dalam ritual.

[2] Kshathra yaitu roh yang mahamulia dan pejuang kerajaan yang membela orang miskin. Dia kadang-kadang disebut Kebaikan Dominion Ahura Mazda.

[3] Asha Vahista yaitu Dewa pembela perintah-perintah dunia dan memerangi Iblis. Dia adalah roh kebenaran dan keadilan, yang memilki tujuan untuk memerangi kebohongan.

[4] Armati yaitu penyokong kebijaksanaan di bumi, merupakan roh wanita dari devosi yang kudus dan pemikiran yang benar

[5] Haurvatat yaitu roh yang membawa kemakmuran, kemurnian dan kesehatan. Ia juga dalam komando air dan ia menggambarkan air dalam upacara Yana.

[6] Ameretat yaitu roh yang memberikan kehidupan yang kekal, atau setidak-tidaknya umur yang panjang, atau petunjuk agar memiliki umur yang panjang untuk kehidupan yang kekal. Dia menggambarkan Haoma dalam upacara Yasna. Ameretat dan Haurvatat hampir selalu berpasangan.

ROH KUDUS
Spenta Mainyu, Roh Kudus Dewa, merupakan sebuah konsep yang bertalian. Dia tidak dianggap satu dari Amesha Spentas, karena sifatnya hampir serupa dengan Ahura Mazda dan dia memiliki tujuan yang sama dengannya. Spenta Aminyu tidak memiliki kehidupan yang berbeda dari Ahura Mazda, tetapi  mengalami penambahan roh, karena kehadirannya menolong pendistribusian seluruh ciptaan dari Ahura Mazda. Dia juga menolong menyempurnakan realisasi diri ilahi Ahura Mazda. [5]

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA dan MANUSIA
Orang Iran Kuno mempercayai bahwa langit adalah bagian pertama dari penciptaan dunia. Digambarkan bahwa bumi terbuat dari lingkaran pelindung dari batu kristal, kemudian berubah lagi menjadi besi. Penciptaan berikutnya adalah air, setelah bumi. Lalu muncul lagi tumbuhan dan hewan. Manusia diciptakan pada hari ke-6, dan api diciptakan terakhir kali.

Gunung dipercayai oleh mereka tumbuh dari permukaan bumi, yang awalnya bumi ini datar. Menurut kitab Avesta, gunung pertama kali dapat tercipta setelah 800 tahun berjalan. Air juga merupakan salah satu hal terpenting dalam agama ini. Menurut kitab suci Avesta, air dilambangkan sebagai pembawa kehidupan. Sungai yang terutama bernama sungai Harahvaiti. Selain itu juga ada juga tumbuhan. Mereka menyimbolkan sebagai pohon yang timbul di tepi sungai atau aliran air. Pohon itu disimbolkan sebagai benih dari kehidupan yang mendapat makanan dari aliran sungai tersebut. Ada juga hewan yang pertama kali diciptakan. Hewan itu sejenis dengan sapi. Pusat dari keberadaan hewan ini terdapat di sebelah timur sungai.

Manusia juga salah satu dari proses penciptaan. Dalam kitab Yasht, digambarkan seorang pria yang berperawakan tinggi dan terang bagaikan matahari. Dewa Angra Mainyu membunuh manusia pertama itu yang bernama Gayomartan. Dari peristiwa itu selama lebih dari 40 tahun barulah muncul manusia baru, yang diperkirakan sebagai orang pertama, yaitu Mashya dan Mashyanang.

FILOSOFI UMAT ZOROASTER (ZARATHUSTRA)
Filosofi umat Zoroaster tersusun 2 bagian: etika dan eskatologi

Etika: Dalam Agama Zoroaster, hidup yang ideal dapat disimpulkan secara sederhana dalam 3 cara hidup yang baik yaitu: pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik. [6]

Akhir Zaman (Eskatologi): Pada saat kematian, orang akan berdiri  dihadapan Sraoha (kepatuhan terhadap Tuhan), Rashnu (keadilan), dan Mithra (kebenaran). [7] Jika seseorang dapat membuktikan bahwa dia memiliki perbuatan baik  yang lebih banyak daripada perbuatan yang buruk, maka ia akan diselamatkan. Jika perbuatan yang baik seimbang dengan perbuatan yang buruk, orang akan melanjutkan ke penghakiman yang terakhir di sebut Hamestaken. [8]

DAFTAR PUSTAKA
Browne, A. M. Histoty of Zoroastrianisme. Leiden: Ej. Brill, 1996.
Curtis, Vesta Sarkosh. Persian Myths. Austin: British Museum Press, 1998.
Keene, Michael. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisisus, 2006. Kellens, Jean. "Avesta", dalam Encyclopaedy Iranica Vol. 3. (New York: Routledge & Kegan Paul,             2005.
Morgan, Diane. The Best Guide to Eastern Philosophy and Religion, theUnited States of America:  Renaissance Media, 2001.

CATATAN:
[1] Ibid., hal. 174.
[2] M Browne, A. Histoty of Zoroastrianisme, (Leiden: Ej. Brill, 1996), hal.1.
[3] Jean Kellens, "Avesta", dalam Encyclopaedy Iranica Vol. 3, (New York: Routledge & Kegan Paul,              2005) hal.35-44.
[4] Diane Morgan, the Best Guide to Eastern Philosophy and Religion, (the United States of America:  Renaissance Media, 2001), hal. 297-298.
[5] Ibid., hal. 298-299.
[6]   Op. cit, Diane Morgan, hal. 299.
[7]   Ibid, hal. 300.
[8] Ibid. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar